Short Review: Indonesia International Fantastic Film Festival 2011 (Part I)

Coba perhatikan, dari review-review yang movietard post selama ini, ada satu genre yang jaaaarang sekali disentuh, dan itu adalah horror! To told you the truth, I don’t have any courage to write its review since I always close my eyes when I was watching horror movie. Yes, the reason is so simple, movietard memang penakut, but…  for this November, as I did for the past two year, movietard kembali berpartisipasi dalam Indonesia International Fantastic Film Festival (iNAFFF) 2011 yang diadakan di Blitzmegaplex Grand Indonesia pada 11 – 20 November 2011 lalu, and hey, walaupun tetap menghindari menonton film-film bergenre pure horror, dan lebih memilih menonton film bergenre action thriller, slasher, hingga comedy horror, believe it or not, ada beberapa film yang berani movietard tonton sendiri *menyelamati diri sendiri*, and here’s my review (as usual, a short one) and yes, it’s still a part one because I don’t have *tttssssah* enough to time to write it all, so I’m gonna break my iNAFFF’s report in two part *siap-siap ditimpuk*

Immortals
The Plot
Theseus (Henry Cavill) adalah anak manusia yang di’tuntun’ Zeus (Luke Evans) untuk menghadapi Raja Hyperion (Mickey Rouke) yang ingin menguasai dunia dengan melepaskan para titan.

The Comment
Immortals (2011) jelas menjadi salah satu film di tahun 2011 yang ditunggu-tunggu movietard. It’s not because I love geek mythology, my main reason is because I’m a cavillry *What’s Cavillry? Cavillry is a community of Henry Cavill’s lovers at ONTD, and yes, I love Cavill since he played Charles, a character of King Henry’s sidekick at The Tudor* anyway, waktu movietard tahu bahwa Immortals yang menjadi film untuk opening iNAFFF, movietard cukup merasa heran bagaimana sebuah film geek myhtology menjadi bagian dari festival film berdarah *lebai mode on*, but the question is, it’s worth it or not?

Duduk di bangku director adalah Tarsem Singh, yang telah membuat movietard jatuh hati dengan The Fall (2009). Di Immortals, Singh sukses memvisualisasikan dunia sebelum masehi dengan  keren, termasuk dengan membuat kostum para dewa yang minimize tetapi tidak murahan. Sayangnya, harus diakui story plot film ini tidak tergarap dengan baik. Immortals menghadirkan lubang dimana-mana seperti betapa accidentally-nya busur Ephirus tertanam di desa Theseus, bagaimana bisa-bisanya Theseus dan perawan peramal (Freida Pinto) jatuh cinta. Anyway, chemistry antara Theseus dengan si perawan peramal jelas tidak terlihat. Hey, ini bukan bentuk kesirikan movietard, tetapi akting Pinto dalam film ini memang buruk. Bahkan Isabel Lucas sebagai Athena yang memiliki screen time lebih sedikit dari Pinto justru tampil lebih baik.

Lepas dari cerita yang begitu standar, Immortals menghadirkan pertempuran seru di akhir film. Tak tanggung-tanggung, Singh membagi pertempuran ini menjadi dua, yaitu antara Theseus dengan Hyperion sebagai kaum human, dan kaum yang lebih kuat, yaitu antara Dewa Zeus *maybe it’s just me, but Luke Evans who play as Zeus is such a hottie too!* melawan kaum Titan. Overall, Immortals menjadi popcorn movie yang lucunya tidak terlalu fun karena faktanya, film ini menghadirkan cukup banyak darah dan pembantaian sepanjang film. At last, bagi anda kaum hawa, silahkan menikmati how great Cavill’s abs sepanjang film ini *kissing Mr. Cavill*.

Claypot Curry Killer
The Plot
Ini kisah Drama keluarga nyonya Chew dan tiga anak gadisnya. Plot utamanya adalah kesuksesan usaha kari keluarga Chew yang menggunakan daging manusia.

The Comment
Malaysian made a slasher movie! Movietard awalnya sempat ragu memilih Claypot Curry Killer (2011) dalam watch list, but hey, melihat dari premisnya, film ini tampaknya cukup seru. Toh film ini juga tidak  menampilkan hantu melainkan manusia, yaitu perempuan paruh baya dan tiga karakter anak perempuan yang sangat cantik. Point of view yang diambil director James Lee pun tidak menonjolkan poin pembunuhan untuk dimasukkan dalam kari, melainkan mengajak kita melihat drama kehidupan keluarga Chew secara penuh. Ya, ada kisah cinta tiga anak gadis keluarga Chew yang dilibatkan, semuanya memiliki kisah dan penyelesaian yang berbeda-beda.

Alih-alih jadi film pembantaian yang sadis, Lee justru banyak tak banyak memperlihatkan scenes pembantaian tersebut. Well, dalam asumsi movietard, hal ini mungkin mengingat spesial efek dalam industi perfilman Malaysia memanglah setingkat dibawah Hongkong sehingga sulit untuk mengulangi kesadisan dalam Dream Home. Lepas dari itu, Claypot Currry Killer tetap membuat movietard ketakutan, yang bukan pada scenes pembantaian manusia, melainkan ketika movietard melihat sosok si nyonya Chew yang begitu creepy. Walaupun dieksekusi dengan biasa saja oleh Lee, tetapi story plot Claypot Curry Killer tergarap dengan cukup baik. Movietard sangat suka dengan part terbunuhnya dua orang pencuri resep yang dibuat seolah sub-film ‘Tony and Tiger’ and it’s definitely a funny one!

Super
The Plot
Paska ditinggal pergi istrinya yang junkie, Frank (Rainn Wilson) nyatanya bangkit dengan  alter ego baru, Crimson Bolt si pahlawan super.

The Comment
Movietard lagi-lagi sempat heran melihat Super (2011) masuk dalam list iNAFFF. This movie sounds like another Scott Pilgrim v.s The World and Kick Ass which is supposedly be part of Jiffest, no? Tetapi, setelah menontonnya, movietard paham kenapa film ini hadir di iNAFFF, it’s a bloody superheroes movie, yang bahkan membuat Kick Ass terlihat bersih. Disutradarai James Gunn yang berani menampilkan Super tanpa mengandalkan spesial efek layaknya film-film superheroes besar, nyatanya Super justru tampil begitu bloody and funny indeed dengan segala keberaniannya melawan plot mainstream, seperti menampilkan tokoh utama yang tidak seganteng Captain America dan memparodikan kepercayaan terhadap agama melalui kepercayaan Frank bahwa ia sebagai ‘The Chosen One’

What I do love about this movie? Its characters! As I write before, Super sangat berani dalam melukiskan karakter utamanya, Frank dan sidekick-knya Libby (yang diperankan dengan sangat lepas oleh Ellen Page) dengan begitu berbeda dengan karakter superheroes selazimnya. Terserah anda mau menilai Frank dan  Libby sebagai psikopat setengah gila, tetapi movietard mau tak mau tetap tertawa melihat bagaimana kegilaan Frank saat ada orang yang memotong antrian ataupun Ruth yang berusaha men-seducing Frank, sound so provocative, no? Walaupun bercita rasa indie, tetapi Gunn juga tak kalah dalam menampilkan pertarungan penuh darah dan ledakan dipenghujung film yang sempat membuat movietard terjengit. In conclusion, Super menjadi salah satu film favorit movietard di iNAFFF 2011, yang mampu mengocok perut sekaligus juga mengajukan nilai mendasar, bahwa justice adalah hal personal dengan standar berbeda bagi setiap orang.

Love
The Plot
Ber-setting di masa depan yaitu tahun 2040, James Lee Miller adalah seorang astronot yang terjebak di luar angkasa, sendirian dan kehilangan kontak dengan bumi.

The Comment
Menjadi satu-satunya film bergenre science-fiction di iNAFFF 2011 membuat movietard tertarik untuk menonton Love (2011), sebuah film yang diproduksi dan scoring-nya dibuat oleh band Angels and Airwaves. Nah, ego movietard yang besar membuat diri ini memaksakan tetap menonton Love di jam pemutaran 11 pm dan sendiri pula! Err… jujur, movietard menghabiskan setengah dari waktu durasi Love dengan…. tertidur. Ya, jangan salahkan filmnya, tetapi salahkan si empunya blog ini yang memang tidak mengenal band Angels and Airwaves sehingga tidak bisa terkagum-kagum dengan scoring yang dibuat band ini. Oh, plus salahkan juga kemampuan bahasa inggris movietard yang tidak jago sehingga cukup pusing untuk menikmati story plot Love.

Tetapi, dibalik semua kelemahan dan kebodohan movietard yang membuat movietard tak bisa menikmati film ini sepenuhnya. Love jelas menjadi salah satu a well-made sci-fi indie movie. Ada perasaan teralienasi yang ikut dirasakan movietard ketika menonton Love. Director William Eubank yang juga menulis skrip film ini mampu menghadirkan suatu keterasingan seorang manusia di alam semesta. Eubank mungkin tidak sevisioner Kubrik melalui 2001: Space Odyssey, tetapi dibalik megahnya sound yang dibuat oleh Angels and Airwaves, anda akan dibuat berempati terhadap si astronot yang seolah dikubur seorang diri, bedanya ia tak berada dalam peti mati tetapi di sebuah kapal luar angkasa.

The Monk
The Plot
Ambrosio adalah anak yang ‘dibesarkan’ gereja dan menjadi salah satu pendeta dengan khotbah yang bagus sebelum setan dan hawa nafsu menggodanya.

The Comment
Kalau boleh jujur, alasan utama movietard menonton The Monk/Le Moine (2011) adalah Vincent Cassel, salah satu aktor spesialis peran villain asal Perancis yang memerankan Pendeta Ambrosio di film ini. Kalau Monica Belucci saja bisa jatuh hati padanya, how could I’m not? *Loh kok jadi gossip*, but hey, The Monk yang diadaptasi dari novel gothic terbitan abad ke-17 seharusnya memang tidak masuk dalam iNAFFF’s choice. Entah kenapa, dibanding iNAFFF, citarasa The Monk justru lebih pantas ditaruh di Jiffest. Ya, alih-alih menyoroti bagaimana ‘setan’ mengganggu Ambrosio, director Dominik Moll justru membuat The Monk lebih banyak berisi dialog panjang tentang keyakinan agama, hubungan Ambrosio dengan para jemaatnya, pergulatan batin Ambrosio dan poin yang membuat movietard bersorak gembira adalah, Moll tak jual mahal dalam menyajikan sexual intercourse Cassel dengan lawan mainnya *Porn alert detected*.

Walaupun Moll membuat The Monk dengan tone warna suram dengan setting kastil gereja yang terkesan dingin, alih-alih menakutkan, movietard justru agak terenyuh menonton film ini. In my opinion, inti dari film ini adalah bagaimana seorang true believer seperti Ambrosio digoyahkan oleh hawa nafsu yang menyebabkan ia bertindak diluar akal sehat, melihat pergulatan batin Ambrosio membuat anda mau tak mau kasihan padanya. The Monk  realitasnya tetap memiliki kekurangan. Beberapa bagian dalam story plot-nya mungkin terasa tidak logis dan terasa begitu sangat kebetulan yang too good to be true, but hey, instead of giving so much protest, seeing Mr. Cassel’s butt was definitely worth every penny!

The Saint
The Plot
Saint Niklas dibunuh pada full moon 5 Desember 1942, dan setiap full moon pada tanggal tersebut, arwahnya kembali ke bumi untuk… membunuh.

The Comment
Movietard menonton The Saint/Sint(2010) sendirian, keberanian ini datang karena dalam booklet iNAFFF, film ini dilabeli horror comedy, so why don’t I dare myself to watch another urban legend story about Santa Claus only in Netherland version? Luckily, film ini memang fun! Yes, alih-alih ketakutan setengah mati melihat pembantaian yang dilakukan hantu Saint Niklas di Amsterdam, movietard justru menikmati film ini sambil beberapa kali tertawa. Main plot The Saint adalah petualang Frank dan Goert yang walau berbeda generasi, mereka berdua bahu membahu berusaha melenyapkan Saint Niklas dari muka bumi and did they suceed to finish their mission?

Director Dick Maas, yang juga menulis skrip The Saint, membuat story plot yang cukup smart. Ya, plot The Saint jelas berbaru theory conspiracy tentang perubahan karakter Saint Niklas yang kita kenal sebagai seorang kakek gendut baik hati menjadi seorang hantu pembunuh. Dilukiskan pula dalam film ini bagaimana pemerintah Belanda dan gereja menutupi pembantaian Saint Niklas dengan mewartakan sebagai kecelakaan. Maas juga dengan pintar menyelipkan beberapa humor cerdas semacam china’s product using yang membuat movietard tertawa. Walaupun tidak banyak menyajikan aksi berdarah, tetapi dari segi make up, movietard cukup ketakutan melihat kerangka Saint Niklas di film ini. Overall, it’s one of a enjoyable iNAFFF’s movies and yes, I like it!

Fisfic 6 Vol 1
The Plot
6 omnibus short horror movies bergabung, dari cerita polisi di pedesaan dalam Meal Time, kisah tentara  perjuangan tahun 1945 di Rengasdengklok, penagihan upeti dari perempuan berbaju hitam melalui Reckoning, a dangerous kill website pada Effect, film tentang keluarga Chinese di Rumah Babi dan kisah gadis di dalam Taksi.

The Comment
iNAFFF tahun ini realitasnya memberi perhatian lebih kepada perfilman nasional melalui kehadiran film Fisfic 6 Volume 1 (2011). Ya, Fisfic 6 Volume 1 tercipta melalui kompetisi penulisan skenario, dimana para filmmaker terpilih hanya diberi uang 10 juta rupiah untuk membuat film horror pendek. Jujur, movietard biasanya malas menonton film horror lokal, but hey, the D.I.Y spirits from Fisfic sound so good. no? And honestly, I love this movie, not all of those 6 short stories, but 2 of them –Rumah Babi and Taksi– was definitely a great one. Told you the truth, I’m not the only one who love this tmovies, The Fisfic comitte were on the same boat since Rumah Babi got a special mention award and Taksi was the winner of this competition.

Movietard mencoba me-review omnibus ini dalam short review *udah pendek harus dibagi enam pula!* and here’s it is… Meal Time was good, terutama dari segi karakternya (I heart you Robertino, eh Abimanya!) sayangnya, twist pada open ending Meal Time kurang mengena. Rengasdengklok berangkat dari ide berupa teori konspirasi masa kemerdekaan yang sangat menarik, sayangnya, kehadiran karakter the next to be president justru menjadi titik lemah. Alih-alih memperkuat plot, karakter ini justru melahirkan cita rasa komedi. Reckoning was a nice black-white movie, yang memberikan cita rasa berbeda dari film lainnya tetapi tidak istimewa *mungkin karena efek warna darah pun berubah jadi hitam*. Effect hadir dengan premis yang umum but hey, scene ticktocting to death time tersusun dengan sangat rapi yang membuat movietard terkesan.

Seperti yang telah ditulis sebelumnya, terdapat dua film yang paling menonjol dalam Fisfic 6 Vol.1 yaitu Rumah Babi dan Taksi. The first one is Rumah Babi, oh may, may! It’s definitely a real horror movie which consist of real ghost. Hal ini jelas membuat movietard ketakutan karena beberapa scenes memang sangat mengagetkan. Pacing film terjaga dan mampu memberikan ketegangan hingga akhir, but above all, film ini yang juga melahirkan pertanyaan pada diri anda sejauh mana kita akan mengorbankan moralitas demi ambisi. Fisfic 6 Vol.1 ditutup oleh Taksi, sebuah film adventure sederhana dengan eksekusi yang tak kalah apik. Ya, dengan hanya berseting di dalam taksi, perbincangan seorang gadis muda dengan supir taksi di perjalanan berlanjut dengan kejadian tak terduga. Ketika kengerian hadir justru bukan pada karakter ‘the bad’ dengan visualisasi yang cukup berdarah, in my opinion, Taksi pantas menjadi pemenang kompetisi ini. A well-done job!

-The end of Part I, To be Continued to Part II-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s