Short Review: Festival Film Eropa (Europe on Screen) 2011

Di minggu ke dua bulan November 2011 kemarin, movietard iseng untuk datang ke Festival Film Eropa (Europe on Screen) -selanjutnya disingkat EoS– yang memang tengah berlangsung di pusat-pusat kebudayaan di Jakarta. Dari judulnya pun, kamu sudah tahu bahwa film-film yang diputar pastinya adalah produksi negara-negara Eropa. I attended EoS two years before (at 2009) and watched some nice movies there, since I got a spare time after work-hours and it’s still a free entry *yeah!*, I watched 3 movies, the first two at Goethehaus, November 8th, and the last at Instituto Italiano di Cultura, November 10th. And here’s my very-very short review.

Flickan (The Girl)
The Plot
Seorang anak gadis berusia 10 tahun ditinggal keluarganya pada sebuah musim panas. Dan ini cerita ‘petualang’ si anak selama musim panas itu.

The Comment
Movietard agak terlambat datang ketika menonton Flickan (2009). Flickan sendiri berfokus pada ‘The Girl’, yes, tokoh ini memang anonymous, yang ditinggal keluarganya ke Afrika, dan ia dirawat oleh auntie-nya. Masalahnya, si bibi bukanlah mother-type dan justru asyik berpesta dengan teman laki-lakinya, jadi, ketika si anak ditinggal auntie-nya entah kemana, it means, ia harus menjalani hidup seorang diri dan menjalani ‘adventure’-nya. Well, di desa kecil Swedia, petualang apa sih yang dapat terjadi? Actually, it consist of swimming lesson, playing with her girls and boy-friend neighbours, kissing old guy’s cheek until meet with a young guy who ride the fly-baloon.

Flickan jelas 100% europe-type movie. Kita diajak melihat keseharian hidup si anak ini tanpa tahu apa sebetulnya masalah utama. In my opinion, sebetulnya pesan film ini sederhana saja, conquer your best fear! Yang tentunya bagi anak, hal ini adalah meloncat dari ketinggian. Pace film memang berjalan lambat yang bisa membuat audiens mengantuk, tetapi, jika anda perhatikan, Flickan juga menawarkan beberapa sublimal sex-theme yang sayangnya hanya mengambang dikarenakan, well, mungkin karena karakter utama dalam film ini jelas masih anak-anak sehingga sangat riskan jika dibuat lebih dalam. Flickan dibesut director Fredrik Edfeldt yang membawa tone film secara keseluruhan menjadi sebuah warm movie yang cukup bagus.

Unter dir die Stadt (The City Below)
The Plot
Ini cerita perselingkuhan antara banker paruh baya, Roland dengan perempuan muda, Svenja, yang tak lain adalah istri dari bawahannya.

The Comment
Apa yang ditawarkan oleh film produksi Jerman ini? Unter Dir Die Stadt (2010) memotret kehidupan manusia modern di kota-kota besar saat ini. Ketika Roland dan Svenja terlihat dari luar telah memiliki segalanya, realitasnya, tetap masih ada kekosongan dalam diri mereka. Tetapi, alih-alih mengangkat cerita layaknya Fight Club, plot film ini lebih sedehana, dimana kebutuhan eskapisme Roldan dan Svenja disalurkan melalui perselingkuhan. Ya, Roland yang sukses sebagai banker nomor 1 dan memiliki perkawinan yang stabil nyatanya tertarik dengan Svenja. Svenja sendiri bukannya tidak bahagia dengan perkawinannya, sebagai seorang pendatang baru di Frankfurt yang jobless, ia merasa hanya sebagai atribut si suami. Ketika perselingkuhan mereka berdua menjadi lebih dalam, baik Roland maupun Svenja harus membayarnya dengan harga yang cukup mahal.

Dibesut Christoph Hochhausler yang cukup sexy dalam memotret ketertarikan seksual antara Roland dan Svenja, dan kemudian menuangkannya sexual intercourse mereka berdua yang cukup ‘hot’ dalam pita seluloid, film ini toh juga menyoroti bagaimana work-culture di Jerman sendiri melalui setting dunia banker. Ya, dibalik kisah perselingkuhan ini juga tersimpan sinisme Hochhausler terhadap dunia work-life sebagus Jerman, dimana nyatanya, resesi ekonomi tetap saja tak terhindarkan, begitupun dengan praktek penggunaan kekuasaan absolut si pemegang modal terhadap kaum pekerja. Movietard juga cukup menyukai perkembangan karakter Roland di dalam film. Secara keseluruhan, Unter Dir Die Stadt  berjalan dengan alur linear yang cukup lambat, luckily, film ini diakhiri dengan ending yang cukup membuat movietard terkesan.

Pjevajte Nesto Ljubavno (Play Me a Love Song)
The Plot
Struja adalah gitaris band When Dirty Harry Met Dirty Sally, band rock yang ‘dipaksa’ menjadi wedding band untuk bermain di pernikahan Anja, mantan kekasih Struja sendiri.

The Comment
Bermula dari membaca resensinya di booklet guide EoS, movietard sudah sangat tertarik dengan Pjevajte Nesto Ljubavno (2007). That’s why I visited Instituto Italiano di Cultura for the first time yang melahirkan masalah not-enough parking space dan ribut-ribut kecil dengan satpam. Jadi, movietard telat datang dan definitely in a bad mood ketika sampai. But Thanks God! Film ini jelas menjadi mood saver yang mampu membuat movietard tertawa di sore yang menyebalkan itu. Walaupun awalnya tampak seperti romantic comedy kebanyakan dimana setiap audiens bisa menebak bahwa couple tersebut pasti akan back together at the end, tetapi, film ini bukan hanya sekedar a runaway bride-type movie, director Goran Kulenovi menawarkan plot lanjutan yang seru, yang melibatkan kehamilan, revenge dan senjata.

Pjevajte Nesto Ljubavno jelas menjadi favorit movietard untuk EoS tahun ini dibanding dua film lainnya. Selain cerita yang fresh, chemistry antara Struja dan teman-teman band-nya seperti Mario dan Deni tak kalah menarik dan mengundang tawa. Bahkan, teman Struja yang junkie cukup mencuri perhatian, terutama ketika ia berbagi marijuana di toilet dengan ayah Anja. Film ini juga dihiasi dengan beberapa lagu rock ballad yang sangat ear catching. Walaupun dibawakan dalam bahasa croatian, tetapi tetap membuat kepala movietard ikut bergoyang. Nilai plus lainnya, well, yang ini jelas penilaian pribadi movietard, tetapi believe me, wajah main character laki-lakinya, Struja yang diperankan Ivan Herceg, sangat ganteng! He has a very great resemblance with Josh Hartnett, and yes, I love them both!

One thought on “Short Review: Festival Film Eropa (Europe on Screen) 2011

  1. film yang paling gue suka dari EoS tahun ini jelas Flickan! tapi rasanya menurut gue, film itu ingin mengangkat betapa individualistisnya orang-orang di negara Barat dewasa ini. dengan bagaimana mereka menelantarkan seorang anak 9 tahun selama berminggu-minggu, bahkan The Girl harus kelaparan dalam kesehariannya.
    anyway, nice review!

    salam dari Sobekan Tiket Bioskop!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s