The Three Musketeers

The Plot
The most famous three fictional musketeers, Aramis, Athos dan Porthos bertemu dengan D’Artagnan muda (Logan Lerman), dan ini adalah petualangan mereka menyelamatkan Kerajaan Perancis dari cardinal pengkhianat, Richelieu (Christoph Waltz).

The Comment
Oh may, may, kalau melihat posternya, The Three Musketeers (2011) is supposedly be a great heroic-period movie *Ada nama Opa Christoph Waltz, british hunk Orlando Bloom dan si cute Logan Lerman di dalammnya!*. Apalagi, The Three Musketeers mengangkat myth yang telah begitu populer, tentang kisah para penjaga kerajaaan dari Perancis. Setelah sebelumnya movietard mendapat sedikit bayangan mengenai karakter Aramis dan kawan-kawan melalui peran heroik mereka dalam The Man in the Iron Mask (1998), movietard menonton adaptasi Hollywood terbaru dari karya Alexandre Dumas ini, and well, The Three Muskeeters versi tahun 2011 adalah adaptasi yang ‘berbeda’ dengan pendahulunya karena memasukkan unsur comedy yang cukup dominan. Jadi, siap-siap saja anda menerima cukup banyak kejutan di film ini.

Kejutan pertama datang dari bagaimana scriptwriter Andrew Davies dan Alex Litvak sengaja membuat karakter tiga musketeers favorit itu seolah menjadi pesakitan diawal. Ya, setelah gagal mengambil blue-print kapal terbang Leonardo da Vinci *it’s sounds so cool, no? Yeah, the only one which is cool on this movie!* dan bagaimana Athos dikhianati oleh Lady Milady (Mila Jovovich –believe it or not, her sensual appearance wasn’t helping this movie so much*, tiga musketeers ini menjadi pemabuk sebelum si D’Artagnan muda yang snob datang dan menjadi musuh sebelum balik berkawan dengan mereka. Seolah belum cukup, Raja Louis XIII pun dibuat tampak begitu bodoh dan lebih peduli dengan warna kostum bajunya dibanding nasib negaranya, dan hey, para penjahatnya, Opa Waltz dan Mister Bloom juga tampak dibuat ‘bodoh’ dengan kumis yang begitu nyentrik.

Realitasnya, mengangkat kembali myth yang telah ada memang akan menghasilkan dua reaksi. Pertama, yang menganggap adaptasi tersebut sukses dan kedua, it’s failed. Sayangnya bagi movietard, The Three Musketeers masuk kedalam golongan yang kedua. Untung saja Alexandre Dumas sudah meninggal, kalau masih hidup ia mungkin akan menangis melihat bagaimana tokoh-tokoh ciptaannya dibuat seolah tengah tampil dalam panggung komedi ala Saturday Night Live. Oke, movietard terdengar lebai, tetapi esensi film ini terasa sangat cheesy dan built up para karakter dalam The Three Muskteteers juga kurang kuat. Hal yang sangat disayangkan mengingat background para karakter tersebut seharusnya sudah cukup kaya mengingat karakter-karakter tersebut diadaptasi dari novel maupun dari historis.

Movietard memang tidak mengharapkan The Three Musketeers tampil se-‘berani’ dan sekelam The Tudor karena memang film ini ber-rating PG13, dimana anak-anak turut menontonnya dengan orang tua mereka. Tetapi, bahkan untuk kisah intrik kerajaan antara dua kerajaan besar Inggris dan Perancis, entry point untuk kisah adventure D’Artagnan dan kawan-kawan pun membuat movietard speechless, bayangkan, para musketeers ini jauh-jauh ke London hanya untuk sebuah kalung? Oh well…. Tidakkah Paul W.S Anderson yang duduk dibangku director seharusnya sadar kesuksesan sebuah film ditentukan oleh jalan ceritanya, bukan hanya kehebatan eksekusinya? Ia memang sukses mengemas scene-scene yang penuh dengan aksi memukau penuh dengan duel dan meriam*but hey, the flying-ship duel won!*, tetapi, balutan visualisasi ini toh tak mampu menutupi betapa lemahnya cerita The Three Musketeers yang memiliki terlalu banyak holes dimana-mana.

Padahal, untuk sebuah film dengan semua nama-nama besar yang telah ditulis movietard, dan ditambah dengan banyak bintang populer Eropa yang turut ambil bagian seperti Matthew Macfayden, Mads Mikkelsen dan Luke Evans *yang penampilannya di awal film sempat membuat movietard mengira ia adalah Orlando Bloom*, The Three Musketeers seharusnya bisa tampil jauh lebih bagus. Sangat disayangkan memang eksplorasi terhadap karakter mereka dalam film ini terpaksa dikalahkan oleh aksi pertempuran yang seringkali terjadi tanpa alasan mendasar. And hey, satu hal yang movietard pertanyakan sampai akhir film, kenapa membuat judul film ini The Three Muskteteers padahal mereka sendiri tidak mendapatkan screen time yang cukup dibandingkan karakter D’Artagnan yang begitu dominan? Maybe its title should be only ‘Artagnan’, no?

Anyway, beside all those negative comments, The Three Musketeers cukup membuat movietard tersenyum melihat story plot tambahan berupa balada percintaan yang dialami D’Artagnan dan King Louis XIII yang saling curhat-curhatan itu *it soooo…teenagers look alike, you know*. Menonton film ini seolah menjadi obat kangen bagi movietard karena dapat melihat kembali si cute Percy Jackson sudah tumbuh dewasa dan menjadi D’Artagnan muda. Walaupun Lerman tidak menampilkan akting yang bagus *Geez, jangan salahkan Lerman, salahkan saja skripnya!*, tetapi kumpulan pria manly dengan kostum abad pertengahan yang keren cukup eye candy untuk dilihat. But hey, don’t get your expectation high, tidak ada citarasa klasik dalam The Three Musketeers and in my opinion, this movie gonna be an easy to forget one. But eeeerrrrr… [spoiler] the open ending maybe became a clue about the sequel, no? [end of spoiler].

Do You Know?
Walaupun karakter Aramis, Porthos, dan Athos adalah karakter fiksi dari novel Alexandre Dumas, karakter Cardinal Richelieu, King Louis XIII dan Queen Anne adalah karakter nyata dalam sejarah Perancis
Christoph Waltz berulang tahun dihari yang sama engan Charlton Heston, pemeran Cardinal Richelieu dalam The Three Musketeers versi sebelumnya
Selain di-release pada layar biasa, The Three Musketeers juga hadir dalam 3D version *sorry, I don’t have any interest to watch ini again in 3D*

My Rate
Only 2 stars. A failed period movie! Eventho’ its fulfilled with lots of action, too much comedy element made this movie fall too flat and the actors couldn’t trying to reach their best *Hugging Logan Lerman*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s