Green Lantern

The Plot
Ini adalah kisah seorang pilot pesawat ujicoba, Hal Jordan (Ryan Reynolds), yang accidentally ‘dipilih’ oleh sebuah cincin untuk menjadi penjaga satu sektor planet, yang dikenal sebagai penjaga lentera.

The Comment
Another superheroes movie! Well, setelah movietard dibuat jatuh cinta dengan X-Men:First Class (2011) dan menikmati betapa effing hot-nya Mr.Evans di Captain America:The First Avenger (2011), Green Lantern (2011) datang dengan mengusung nama Ryan Reynolds. Reynolds, jika pada awal tahun 2000-an hanya berkutat dengan genre horror dan teenage drama realitasnya sudah tumbuh menjadi salah satu it actor Hollywood. Movietard sangat menyukai beberapa film Reynolds seperti Definitely, Maybe (2008), The Proposal (2009) dan bagaimana ia tampil memukau seorang diri melalui Buried (2010). Tapi, berbeda dengan film-film tersebut, Reynolds kini melakukan crossing-genre melalui Green Lantern, yang jadi pertanyaan, akankah ia sukses menjadi seorang superhero?

Film ini dibuka dengan narasi mengenai bagaimana dunia luar angkasa dibentuk, tepatnya dalam dunia pergalaksian, terdapat 3600 sektor yang setiap sektornya dijaga oleh para lentera hijau. Ketika musuh berjenis akar pohon *uhm well, I don’t know the best word to describe it* yang disebut Parallax tiba-tiba bangkit dan menyerang beberapa sektor, penjaga lentera di Sektor 2814, Abin Sur berhasil kabur ke bumi dan membiarkan cincin kepunyaannya memilih a new green lantern. Oh iya, para penjaga lentara memang dipilih oleh cincin hijau, si cincin akan menilai kepantasan seseorang (errr…. atau bisa juga seekor?) untuk menjadi penjaga. Poin penting untuk menjadi penjaga adalah, he/she/it must be fearless!  

Absolutely, Hal terpilih untuk menjadi new green lantern! Hal tentunya memenuhi kriteria fearless. Lihat saja ketika ia dengan berani mempertaruhkan hidupnya hanya demi memenangkan pertarungan di langit dengan pesawat tanpa awak. Well, Ia memang tampak slebor dan kurang ajar, but deep inside, he’s actually a good man. Jadi, ini adalah cerita Hal menjadi penjaga lentera yang baru, ketidakpede-an Hal dengan tugas barunya itu, hingga pada klimaks pertarungannya dengan Hector Hammond (Peter Sarsgaard) dan pastinya Parallax. Oh plus, ada pula embel-embel love story Hal dengan teman semasa kecilnya, Carrol Ferris (Blake Lively).

Sebetulnya tidak ada yang salah dengan Green Lantern kalau memang anda doyan membaca komik superheroes dan memiliki imajinasi tinggi. Jadi maafkan Movietard yang jelas tidak memiliki khayalan seoke para comic-geek. Movietard merasa janggal melihat alien-alien berkeliaran, seperti mahluk yang berkulit ungu itu *Well, kalau anda berkulit ungu dibalut dengan seragam ketat hijau? It failed! Bahkan Beast yang berwarna biru jauh tampak cute ketika berbalut seragam kuning –fashion police mode on*. Oh well, bukan itu poin pentingnya, above all, Green Lantern was lack of something, in my opinion, story plot yang dibuat scriptwriter Greg Berlanti, Michael Green dkk terlalu tipis, tidak ada character building sama sekali, sangat disayangkan mengingat Reynolds dan Sargard are great actors.

Movietard tidak mengharapkan Green Lantern tampil se-pretentious dwilogi Batman karya Nolan. But hey, Nolan telah memberikan tonggak baru bagaimana film superhero seharusnya dibuat, not only a fun movie but also can be a good movie, jadi tidakkah director Martin Campbell seharusnya sedikit belajar? To make it perfect, bahkan story plot dengan jahatnya juga membuat fight scenes antara Hal dengan Hector Hammond-Parallax pun juga too quick to end, oh come on! When we don’t have any great story, don’t we deserve at least a great fight between  hero and his enemy with all those CGI effect? Tetapi, bahkan Green Lantern tidak memberikan ini padahal jelas, dibanding Bruce Wayne, Hal dengan cincin hijauhnya itu jauh lebih hebat karena dapat membuat alat senjata apa saja secara langsung.

But hey, beside all those things, Green Lantern also has positive things, beberapa joke yang dilontarkan Hal terkait dengan tanggung jawab barunya ataupun kelakuan Hal saat mengenakan kostum hijau bodohnya mampu membuat movietard tersenyum, menandakan bahwa setidaknya karakter Hal masih tetap manusiawi. Poin plus kedua adalah Blake Lively, honestly, I never be her fan since I watched all those Gossip Girls episodes, her acting as Serena was terrible so does her costume. Tetapi di Green Lantern, Lively bermain cukup baik dan hey, she’s more beautiful when she don’t show any of her curves! It’s good to see Lively try not to make yourself just as sex symbol. In conclusion, Green Lantern was just ordinary superheroes movie. Dengan kehadiran X-Men First Class (2011)  yang di-release berdekatan dengan Green Lantern, in my opinion, Green Lantern jelas kalah dalam segala aspek. But hey, if you’re a DC comic fan, give it shot!

You know… there is a saying in my planet, we say ‘I am only human’. We say it because we are vulnerable, we say it because we are afraid, but that does not mean that we are weak [Hal Jordan]

Do You Know?
Sebelum Ryan Reynolds terpilih sebagai main actor, Bradley Cooper, Justin Timberlake dan Jared Leto telah melakukan screen-test untuk peran Hal Jordan
Zack Snyder sempat didekati untuk men-direct film ini, tetapi Snyder menolaknya karena telah berkomitmen dengan Watchmen *Maybe Green Lantern wasn’t that bad if it directed by him*
Kostum Green Lantern yang berwarna hijau dna bercahaya tersebut bukanlah kostum asli melainkan dibuat dengan efek CGI *speechless…even the costum was fake!*

My Rate
2 stars. Reynolds-Lively was an eye candy to watch for, but the story plot and execution was a so-so and it made Green Lantern be an easy to forget one

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s