Rise of the Planet of the Apes

The Plot
Caesar (diperankan melalui motion capture oleh Andy Serkis) adalah seorang simpanse jenius yang dirawat peneliti Will Rodman (James Franco). Dan ini adalah cerita Caesar mencari ‘keadilan’ versinya.

The Comment
The Planet of Apes? The Rise of the Apes?  Oh well, Movietard harus mengulangi lafal judul film ini sekitar 4 kali sebelum benar-benar ingat, and It’s Rise of the Planet of the Apes (2011). Dari judulnya yang panjang, sebetulnya kisah film ini bisa dibilang begitu sederhana. Kalau mau ber-flashback sedikit ke tahun 2001, waktu itu Movietard sempat menonton film Planet of the Apes (2001), berkisah tentang Astronot Mark Wahlberg yang tiba di planet dimana kera-lah yang menjadi penguasa sementara manusia justru menjadi kaum proletar. Dan kalau mau ber-flashback lebih jauh (yang ini murni hasil googling Movietard, bukan menonton langsung), film Planet of the Apes (2001) adalah remake dari film berjudul sama, Planet of the Apes (1968). Jadi, setelah sebelumnya cerita tentang Kera yang menguasai dunia sudah beberapa kali dibuat, hal baru apakah yang ditawarkan oleh RotPotA?

Scriptwriters Rick Jaffa dan Amanda Silver membuat adaptasi baru terhadap kisah kera ini. Jika sebelumnya film-film Apes seperti diatas lebih berfokus pada tokoh manusia sebagai kaum terzalimi yang melawan dominasi kaum kera, RotPotA justru menawarkan story plot bagaimana awal mula kera-kera ini bisa menjadi penguasa, dengan Caesar sebagai titik sentral dalam RotPotA. Caesar sendiri adalah karakter yang secara berkesinambungan hadir dalam cerita mengenai Apes di film-film sebelumnya. Jadi, apa RotPotA bisa disebut prekuel? No, karena jika anda mencoba mengkaitkan dengan cerita Planet of the Apes (2001), terdapat missing link. Jadi, seperti yang telah ditulis sebelumnya, ini adalah murni new adaptation.

Dalam RotPotA, diceritakan Caesar si simpanse lahir dari ibu yang secara genetik telah disuntik dengan serum untuk menyembuhkan Alzheimer. Ia  tumbuh menjadi bayi simpanse yang jenius, yang bahkan memiliki IQ yang akan berlipat ganda setiap tahunnya. Caesar juga dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh Will dan ayah Will, Charles (John Lithglw). Masalah datang ketika Caesar berusaha melindung ayah Will yang mengakibatkan ia terpaksa dikurung sementara waktu dalam penampungan kera. Ya, Caesar dipaksa melihat dunia untuk binatang yang sesungguhnya, dimana perlakuan manusia seperti penjaga Dodge London  (Tom Felton) justru sangat jahat.

Masalah Caesar tidak hanya itu, ia pun mengalami bullying di dunia kaum kera yang menerapkan struggling for living.  Menyedihkan rasanya melihat Caesar tersesat dan menjadi outsider bahkan dalam lingkungannya sendiri, ia seperti layaknya Tarzan ketika dikembalikan ke kota, terasing dan kebingungan. Untungnya, Tarzan masih punya Jane, sementara Caesar? He had his hope for Will to bring him back to home but Will can’t do that. Merasa dikhianati oleh orang yang dianggap sebagai ayahnya, Caesar belajar menyatu dengan kaumnya, yang berlanjut dengan usaha mencari keadilan dalam versinya.

Oh well, cukup tentang story plot RotPotA, movietard bisa menulis lebih panjang yang berakhir dengan spoiler disana-sini. Honestly, sulit sekali untuk tidak memihak Caesar karena dalam RotPotA, stand point of view khalayak memang akan ditarik untuk memihak Caesar. Dengan banyaknya karakter human – diluar karakter Will, love interest Will dan ayah Will- para supporting karakter dalam RotPotA memang sengaja dibuat sebagai villain dimata penonton. Entah itu tetangga di neighbourhood yang mau memukul Caesar, pekerja di tempat penampungan binatang yang begitu jahat hingga bos di lab penelitian yang semata-mata memikirkan keuntungan bisnis. Jadi, yang dilakukan Caesar sepenuhnya adalah balasan atan perlakuan manusia kepada kaumnya.

Movietard memang lebai dalam menceritakan kisah RotPotA, jangan salahkan Movietard, salahkan saja Andy Serkis! Ya, akting prima Serkis dalam memerankan Caesar benar-benar membuat Movietard berempati kepada Caesar. Serkis sukses melukiskan mimik Caesar, entah itu yang cute, kebingungan, ketakutan hingga ketika ia mulai memendam amarah. Hebatnya, Serkis bahkan tidak menggunakan kostum monyet untuk memerankan Caesar. Dengan menggunakan kemajuan teknologi digital, Serkis hanya perlu duduk manis dan mimik mukanya digambungkan ke visualisasi Caesar secara digital. Entah karena akting Serkis yang begitu superb, movietard bahkan merasa karakter-karakter lain tertutup oleh kebintangannya.  Sorry, Franco, this time, I’m not giving my heart to you.

Rupert  Wyatt me-reboot RotPotA dengan tidak mengecewakan. Seperti yang sudah ditulis Movietard, poin plus film ini adalah kemajuan teknologi digital yang memungkinkan kita dapat melihat para Apes ber’akting’ dengan begitu natural. Dari segi aksi, battle antara human vs. Apes di jembatan San Fransico pun tereksekusi dengan baik. Dan Caesar lagi-lagi menjadi bintang dari awal hingga akhir film. [spoiler] Movietard sangat suka scene perpisahan Caesar dengan Will, dimana Caesar menolak untuk pulang, yang sayangnya tidak diikuti dengan adegan dimakannya Will oleh Caesar #loh? [end of sopiler].

Satu-satunya kekurangan RotPotA adalah… well, Franco! What happen with you dear? Even Caesar –the ape- acted better than you. Movietard merasa melihat Franco yang tak ber’jiwa’ (si empunya blog memang lagi lebai mode on), but it’sa truth Franco, please take a look again at your videos at Funnyordie.com, you acted better there. In conclusion, RotPotA jelas menjadi salah satu film favorit Movietard tahun ini. RotPotA memberikan nuansa baru dalam point of view manusia terhadap kera, kera-kera yang sebelumnya tampak creepy ternyata bisa juga tampil sebagai ‘hero’.


I will take you home [Will Rodman]

Caesar is home [Caesar]

Do You Know?
Ini bukan pertama kalinya Andy Serkis berakting melalui teknologi motion captured, di King Kong (2005) dan Trilogi Lord Of the Rings, Serkis juga telah melakukannya
Nama Caesar diambil dari kisah pahlawan romawi kuno, Julius Caesar
Sebelum Rupert Wyatt menyutradarai film ini, nama Robert Rodriguez dan Kathryn Bigelow sempat masuk dalam bursa

My Rate
4 stars, a good reboot execution by Wyatt, a well-written story, and most of all, definitely a flawless performance by Serkis, he deserves an Oscar! #HeilCaesar!

5 thoughts on “Rise of the Planet of the Apes

  1. Agreee. Menurut gw si yg jd Willjatohnya gak musti Franco hehe (cuma lumayan laahbuat seger mata).gw rada deg2an gimanaaa gt sama film ini *cupu*, mungkin krn di menit1 awal udah sukses kasih warning kalo ini akan jd semacam film battle dan survivor (gw sampe mikir jgn2 ada yg dimakan idup2 ama si Caesar dan tmn2nya) hehehe

    • Iya sayangnya nggak ada yang dimakan, since all the apes itu emang vegan.
      Karakter humannya emang gak berkembang, gue bahkan lupa nama perannya Freida Pinto disini, yah Franco emang so-so sih but I expect more sih😦

  2. film “prekuel” ini memang bukan prekuel dari Planet of the Apes (2001) versi Tim Burton, tapi dari versi orisinilnya (1968). dengan versi orisinilnya, plotnya nyambung banget, apalagi dengan detail gimana kaum manusia akhirnya bisa didominasi oleh spesies kera. tapi memangnya ekspresi Caesar disini dapet banget, sampe ngeri dibuatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s