Captain America:The First Avenger

The Plot
Steve Rogers isn’t an ordinary USS army, melalui proyek ‘tentara super’, secara fisik Rogers diubah menjadi lebih kuat. Dan ini adalah cerita Rogers – a.k.a Captain America– untuk melawan tentara NAZI Red Skull.

The Comment
Oh my, my, maafkan Movietard yang terlanjur asyik dalam jurang kemalasan dalam menuliskan pengalaman menontonnya dalam blog ini *buried myself with tears since I didn’t make any farewell post with Harry Potter and the Deathly Hallows Part 2 or blamed myself since I didn’t curse Transformers: Dark of the Moon for wasting my 10 SGD*. But hey, I will try to write again, and now, it’s my review about Captain America: The First Avenger (2011). Everyone knows Captain America: The First Avenger was made because of Marvel’s ambition to make a biggest superheroes movie called The Avengers (2012). You’ve must hear about that word, no?

Sama seperti layaknya Thor (2011), kapten ganteng berbalut seragam layaknya bendera Amerika ini adalah introducing manis yang diberikan Marvel bagi para superheroes fans dan juga penonton film secara umum karena memang, akan terdapat big loop jika tiba-tiba saja Captain America yang kisah kepahlawanannya terjadi di era 1940-an, tiba-tiba muncul dalam sebuah film ber-setting abad 21 itu. Dan film ini adalah salah satu fondasi yang akan menopang cikal bakal kisah The Avengers itu.

Jadi, mari kita ber-flashback ke era 1940-an, tepatnya ketika Amerika dan negara sekutu seperti Inggris berhadapan dengan NAZI. But hey, musuh utama dalam story plot Captain America ternyata bukan Adolf Hitler, maybe Hollywood get bored with Hitler, no? Melainkan anak buah Hitler yang bernama Johann Schmidt (Hugo Weaving) yang memiliki organisasi bernama red skull/hydra yang bertujuan membuat senjata berkekuatan besar dengan menggunakan batu ajaib yang dianggap sebagai the power of God *in my assumption, it has a reference with one of Thor’s character called Odin, no?*.

Ketika Schmidt sibuk dengan pembuatan senjatanya di Germany, di New York, ilmuwan pintar Dr. Abraham Erskine (Stanley Tucci) yang dibantu dengan Howard Stark (Dominic Cooper in his fun appearance as Tony Stark’s father) justru menyiapkan Steve Rogers si kurus pesakitan menjadi kelinci ujicoba untuk menjadi pahlawan amerika super, and mission accomplished! Seolah isi serum adalah stereoid, Rogers baru tampil dengan sangat macho dan secara kemampuan fisik jauh diatas manusia normal. Tetapi, Rogers tetaplah Rogers yang berhati mulia, misi naik panggung, menyelamatkan temannya Bucky, hingga melawan Schmidt dijalani Rogers dengan ikhlas *nada mendayu*.

Captain America: The First Avenger jelas tetap berpakem pada formula seperti layaknya tujuan awal komik superheroes dibuat, for fun and enjoyable. Scriptwriter Christopher Markus dan Stephen McFeely membuat story plot yang jelas akan dipahami semua khalayak umum. Jokes banyak diberikan disepertiga pertama film, terutama ketika Rogers masih dalam sosok pria kurus. Tetapi, salah satu scene favorit Movietard yang membuat tertawa adalah saat Captain America justru menjadi celebrity personae untuk menarik penjualan obligasi yang mengharuskannya show dari panggung ke panggung dibanding turun ke medan perang yang riil. Tetapi toh, si Kapten, setelah dibantu diyakinkan oleh love interest-nya, Peggy Carter (Hayley Atwell), ia akhirnya sadar bahwa he’s more than a stage guy, he’s the real army.

Joe Johnston yang duduk di bangku director sukses mengemas Captain America: The First Avenger menjadi popcorn movie yang asyik ditonton. Ini bukan cerita tentang pahlawan super yang menjadi propaganda ala negeri paman sam, tetapi tentang nobody yang menjadi somebody tanpa menghilangkan sifat asli nobody tersebut. [Spoiler] Lihat bagaimana si Kapten super ini tetap canggung berhadapan dengan gadis yang disuka, bersedih ketika ditinggal sahabatnya dan tentunya, kebingungannya ketika berhadapan dengan dunia baru [end of spoiler].

Captain America: The First Avenger mungkin kurang disukai banyak orang karena dianggap memiliki cerita yang terlalu gampang ditebak dan kurang ‘wah’ dari segi action. Hal ini tak dapat dielakkan karena setting tahun tak memungkinkan untuk menghadirkan senjata berteknologi ala Iron Man tidak mungkin diwujudkan, but honestly, Movietard was so in love with Captain America’s old style! Bahkan kostum Captain America which is supposedly to be funny to watch, look so cool retro! Another plus factor is Chris Evans, jika sebelumya Evans hanya kebagian peran sebagai sidekick dari pahlawan utama, ia disini tampil cukup baik *uhm well, in physically, Evans tampil sangat baik malah*. At last, Movietard sangat menikmati menonton Captain America: The First Avenger. Just sit, relax your mind, forget to critizise it’s story and just enjoy the movie. You’ll love it!

I don’t want to kill anybody, I don’t like bullies, I don’t care where they’re from [Steve Rogers]

Do You Know?
Steve Rogers yang sangat kurus di sepertiga awal film adalah body double yang ditempelkan dengan wajah Chris Evans yang dibuat lebih kurus dengan efek digital.
Captain America: The First Avenger juga hadir dalam bentuk 3D yang dikonversi. Jadi, jika anda mengharapkan keindahan  efek 3D sebagus Avatar (2009), well, pleas set lower your expectation
Jangan meninggalkan studio sebelum credit title benar-benar berakhir, ada sedikit hadiah yang diberikan Marvel Studio kepada anda.

My Rate
3 stars! I was in love with its old fashioned retro’s style, and Evans –after the lab experiment- was a yummy. Definitely one of my popcorn superheroes movie.

One thought on “Captain America:The First Avenger

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s