Catatan Harian si Boy

The Plot
Natasha (Carissa Putri) bertemu dengan Satrio (Ario Bayu) di kantor polisi. Dari pertemuan ini, Satrio  berusaha membantu Natasha untuk menemui Boy, lelaki yang buku hariannya dipegang oleh ibu Natasha.

The Comment
Movietard termasuk penonton yang menunggu release-nya film Catatan Harian si Boy (2011) and luckily, I watched it at the 1st day! Dari judulnya, anda sudah tahu bahwa film ini ada kaitannya dengan lima film Catatan si Boy yang begitu populer sepanjang tahun 1987-1991. Dan Catatan Harian si Boy hadir bukan sebagai remake karena semua audiences tahu sudah betapa ikoniknya karakter Boy yang diperankan Onky Alexander, karakter Emon yang kemayu dan well, semua love interest Boy yang semuanya bertampang ala cover girls, dari mulai Ayu Azhari, Meriam Belina, Vena Melinda hingga Paramitha Rusady.

Jadi, jalan ‘aman’ yang dipilih oleh director Putrama Tuta dan scriptwriter Priesnanda Dwisatria dan Ilya Sigma  adalah meneruskan cerita Boy dan buku hariannya yang kini telah berpindah tangan ke generasi kedua, yaitu melalui anak dari love interest Boy dalam film Catatan si Boy (1987) yang bernama Nuke. Dan apakah film ini tetap mengandung karakter ala Boy  yang begitu perfect as a guy seperti film-film sebelumnya?  Catatan Harian si Boy memang ‘menjual’ Ario Bayu, seperti layaknya Onky Alexander (dimasa itu) yang menjadi pujaan, memasang Ario Bayu it’s definitely a smart decision since no one, especially women, can’t resist this guy, no?

Tetapi, karakter Satrio dibuat bukan untuk menyerupai Boy, alih-alih menjual kembali karakter lelaki yang kaya, menggunakan BMW, jago olahraga dan tetap rajin shalat, duo scriptwriters menyadari audiences muda saat ini lebih kritis, jadi, walaupun Satrio memang anak orang kaya, tetapi ia memilih keluar dari comfort zone-nya ketika tahu ayahnya korupsi dan memilih mencari uang sendiri dengan menjadi montir di bengkel dan melakukan balapan liar. Di bengkel inilah, persahabatannya terjalin dengan sesama montir Andi, si akuntan Herry dan pemilik bengkel yang menaruh hati kepada Satrio, Nina.

Walaupun Putrama Tuta membuat film ini sebagai regenerasi, tetapi, movietard tetap melihat pakem film ini tetap berpegang pada pola dasar penceritaan Catatan Si Boy terdahulu yang sayangnya, sudah usang di masa ini. Dahulu, karakter si Boy -selain dianggap sebagai menantu ideal bagi para ibu- Ia dianggap sebagai representasi muslim di kota besar yang taat tetapi juga penikmat budaya konsumsi, hal yang sebelumnya tida tergambar dari film-film bertema islami sebelumnya mengingat budaya konsumsi baru mulai terjadi era Soeharto ( Sen & Hill, 2000).

Dalam Catatan Harian si Boy,  Satrio dalam dua scenes digambarkan tengah shalat di penjara dan tengah melipat sajadah, so yes, Satrio tetaplah representasi muslim yang taat. Belum lagi representasi tokoh sissy melalui kehadiran karakter Herry, kehadiran tokoh bule yang menjadi saingan cinta Satrio dan lagi-lagi, tokoh love interest pun kembali dibuat bertampang ala cover girl (Oh well, yang terakhir murni kesyirikan Movietard melihat betapa beruntungnya Carissa Putri beradu akting dengan Ario Bayu). In a conclusion, terlihat bahwa film ini tetap berpegang pada nilai dasar film-film Catatan si Boy sebelumnya, bukan hal buruk memang, but it’s been 23 years later after the first movies, don’t you think we need something different, don’t we?

And luckily, somebody stole my heart *lebay* movietard is really falling in love with Catatan Harian si Boy‘s supporting characters such as Herry, Nina and most of all, Andi yang diperankan Abimana Aryasatya yang berakting sangat apa adanya. Andi, dengan gaya sok cool-nya dan interaksinya dengan Herry selalu membuat Movietard tertawa menjadi scene stealer yang mencuri perhatian movietard dari ketampanan Ario Bayu.

At last, Walaupun Catatan Harian si Boy menawarkan story plot teenage drama yang memang berisi urusan cinta segitiga, persahabatan dan juga pertengkaran, tetapi nilai plus dari film ini adalah betapa jalinan cerita yang begitu tertebak ini mampu dibalut dengan dialog yang menghibur *dialog Andi-Herry adalah juara*. Selain itu, nilai plus lainnya adalah, Catatan Harian si Boy tak hanya berkisah tentang konflik  Satrio dan sahabat-sahabatnya, anda akan  diberikan penjelasan tentang apa yang telah terjadi dengan tokoh ikonik di era 80-an melalui kemunculan Onky Alexander dan Didi Petet sendiri. Nostalgia yang manis, [spoiler] dan narasi suara Boy di akhir film ini menjadi happy ending bagi Boy dan Satrio.

Do You Know?
Aksi balapan mobil dengan BMW 325i yang dilakukan Satrio diseputaran jalan protokol Jakarta dilakukan oleh dua bersaudara Sungkar.
Selain film Catatan Harian si Boy, 700 pictures  juga akan mengeluarkan pula kumpulan lagu ‘Tribute to Boy’ dan buku diary (storygraph), novel dan buku skenario film.

My Rate
3 stars! Catatan Harian si Boy was definitely a fun to watch-movie, Ario Bayu was so gorgeous guy to watch for, great sidekicks with those funny dialogues, and yes, and also be a reminder how old we’re now since Onky Alexander already grew up be a big daddy

One thought on “Catatan Harian si Boy

  1. gue gak berani nonton film ini lagi saking takutnya kebayang2 ama Ario Bayu lagi muahahahahaa.. Ario Bayu bakal jadi hitssss gara2 film ini, liat aja deh.
    filmnya sendiri sih fun, gak lebay dan menghibur lah yaa..
    bikin pgn nntn Catatan si Boy jadulnya.. cari dimana yaa copy filmnya hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s