The King’s Speech

The Plot
Prince Albert, Duke of York (Colin Firth) menderita gagap sejak kecil. Terdengar sepele memang, cerita baru menarik ketika ia ditunjuk menjadi Raja Inggris George VI yang mengharuskannya mampu berpidato dengan lancar.

The Comment
Awalnya, The King’s Speech (2010) jelas tidak menarik perhatian movietard. Hadir dengan pemain-pemain yang usianya lebih tua daripada Keira Knightley dan James McAvoy, tentunya hal ini membuat ekspektasi movietard merendah. Apalagi, tema yang diusung pun pada awalnya (terlihat) berat karena melibatkan keluarga kerajaan Inggris. Tetapi dengan embel-embel menjadi best picture di Oscar, best director untuk Tom Hooper dan best actor for Colin Firth, jelas, The King’s Speech bukan film sembarangan. Yang jadi permasalahan, apakah semua gelar the best of best akan membuat The King’s Speech serupa dengan The Queen, sebuah film bagus tetapi honestly, errr… tidak menghibur bagi movietard.

Surprisingly, The King’s Speech justru hadir begitu down to earth. Anggap saja kehidupan layaknya stage drama, nah, The King’s Speech justru menyoroti sisi belakang panggung yang tak terlihat dalam kehidupan aristokrat, sisi yang menunjukkan bahwa mereka yang tinggal di Istana is just ordinary human. Mengambil setting sebelum Perang Dunia II, The King’s Speech langsung menyoroti kisah Prince Albert, calon kuat the next king mengingat kehidupan yang lurus dibanding sang kakak yang cenderung membelot dari norma umum. Masalahnya, Prince Albert selalu gagap tampil di muka umum, hal yang cukup mengganggu karena masyarakat Britain saat itu mulai melek media dan Raja Inggris telah memanfaatkan channel radio untuk proses hegemoni.

Istri Prince Albert, Elisabeth (Helena Bohman Carter, in her ordinary appearance as a human) berinisiatif untuk mengobati penyakit suaminya ini dengan mendatangi ahli terapi berbicara, Lionel Logue (Geoffrey Rush). Kehadiran Lionel memberikan warna dalam kehidupan Bertie (nama kecil Prince Albert), bukan hanya dalam mengobati kegagapannya, tetapi juga secara spiritual, Bertie yang selama ini cenderung hidup dalam kekakuan mulai membuka diri terhadap Lionel, menunjukkan bahwa seorang calon raja pun butuh teman.

Ya, alih-alih membosankan, interaksi Bertie dan Lionel dalam The King’s Speech justru hadir dengan begitu hilarious. Lionel yang sangat cuek dan artsy berhasil membuat Bertie yang konservatif beberapa kali hampir gila, tetapi justru dari momen-momen inilah anda memahami bahwa, you could be friend with someone who’re really different from yourself, lepas dari strata sosial anda. The King’s Speech hadir bukan sebagai sebuah film aristrokrat high class, film ini justru hadir dengan begitu sederhana, tinggal pindahkan setting ke Hollywood atau Upper East Side, tentunya, anda banyak mendengar cerita tentang si selebriti anu atau inu yang sangat dekat justru dengan pembantu rumah tangga mereka.

In my opinion, kekuatan The King’s Speech terletak pada dua hal, yang pertama adalah naskah, I really amazed with all the dialogue between Bertie and Lionel, how could it be so funny and touching at the same moment? Tentunya, two thumbs up harus diberikan kepada screenwriter David Siedler yang membalut cerita penyembuhan raja gagap ini dengan begitu menghibur. Ya, walaupun Siedler memasukan hal-hal sensitif seperti Jerman dengan Hitlernya ataupun seorang raja yang memiliki hubungan dengan janda, overall, The King’s Speech memiliki nilai-nilai positif dan perjuangan yang pastinya sangat disukai juri-juri Oscar, and that’s why Siedler was really deserved an Oscar for his best original screenplay.

Kedua, The King’s Speech juga didukung oleh amazing act by its casts. Tanpa bermaksud mengecilkan sinematografi film ini, kekuatan The King’s Speech terletak bukan pada keindahan setting, tetapi justru pada akting Firth dan Rush. Movietard sangat suka momen pelatihan di ruang terapi Logue yang kecil tetapi justru sangat heartwarming. In my opinion, Firth memang bermain bagus, tetapi, bintang film ini adalah Rush, movietard sangat suka karakterisasi Logue yang dibawakan dengan sangat witty oleh Rush. Jika saja Bale melalui The Fighter tidak ada dalam nominasi best supporting actor, pasti Rush yang akan membawa pulang piala Golden Globe dan Oscar kemarin.

And the last, berbeda dengan period british movies lainnya, The King’s Speech secara keseluruhan begitu easy to consume dan menghibur. Apalagi, film ini ditutup dengan ending yang sangat hollywood formulaic, membuat anda yang diawal mentertawakan kegagapan Bertie pun pada klimaks film juga ikut merasa cemas layaknya Lionel dan Elisabeth. The King’s Speech membawa anda memahami, bahwa kekurangan ada di dalam diri setiap orang and everyone must to conquer it, termasuk pada persona terbaik dan terkenal di dunia, seperti si Raja Inggris.

[Lionel Logue] Do you know the f-word?
[King George VI] F… f… fornication?
[Lionel Logue] Oh, Bertie.
[King George VI] Fuck. Fuck! Fuck, fuck, fuck and fuck! Fuck, fuck and bugger! Bugger, bugger, buggerty buggerty buggerty, fuck, fuck, arse!

Do You Know?
Screenwriter David Seidler menderita gagap di masa kecilnya. Terinspirasi oleh pidato King George VI dulu, ketika dewasa ia meminta izin kepada Ibu George VI untuk menulis cerita sang Raja. Si ibu mengizinkan asalkan dilakukan setelah ia meninggal.
Dari 12 nominasi yang diperoleh di Academy Award ke 83 lalu, The King’s Speech berhasil membawa 4 piala untuk kategori utama, Best Picture, Best Director, Best Actor and Best Original Screenplay

My Rate
4 stars! One star for its beautiful story line with some witty and humorous dialog by Siedler, one star for powerful performance by Firth, another star for extraordinary act by Rush, and the last star for Hooper who delivered this movie became so heartwarming.

2 thoughts on “The King’s Speech

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s