The Green Hornet

The Plot
Selain mewarisi kerajaan bisnis media ayahnya yang baru meninggal, Britt Reid (Seth Rogen) dibantu Kato (Jay Chou) suka sekali ‘bersenang-senang’ dengan menjadi sosok pahlawan bertopeng, a.k.a The Green Hornet.

The Comment
Ketika mendengar siapa yang menjadi sutradara The Green Hortnet (2011), Movietard perlu meyakinkan diri berkali-kali *okay, movietard tengah lebay*,  bahwa Michel Gondry-lah yang men-direct film ini. Director yang sebelumnya asik bermain dengan alam sureal dalam Eternal Sunshine of the Spotless Mind dan Science of Sleep memang benar akan goes to mainstream! Tetapi, alih-alih membuat film superheroes menjadi thriller psikologis seperti yang dilakukan Nolan melalui dwilogi Batman, Gondry justru menjadikan The Green Hornet sebagai sarana bersenang-senang.

Bersenang-senang ala Gondry berarti ia tak masalah tak bekerja sama dengan Kauffman, dan justru menerima script buatan si main actor Seth Rogen dan Evan Goldberg yang memang dibuat dengan sangat sederhana. Britt Reid (Seth Rogen) yang doyan pesta bertemu dengan chinese sidekick yang pintar martial art dan ahli mekanik, Kato (Jay Chou) dalam suatu momen ketidaksengajaan, mereka bekerja sama, konflik mulai timbul karena memiliki love interest yang sama, si sekretaris cantik Lenore (Cameron Diaz), sementara disaat bersamaan, masalah yang lebih besar menunggu mereka, yaitu dari sosok district attorney (David Harbour) dan villain yang ingin balas dendam (Cristoph Waltz).

Dibalik kesederhanaan plot tersebut, nilai plus The Green Hornet justru terletak pada keluwesan skrip yang memberikan porsi lebih dominan kepada komedi. Well, The Green Hornet tidak menyajikan dialog pintar ala Watchmen yang mengejek pop culture, tetapi justru hadir dengan model comedy slapstick yang selama ini biasanya muncul dalam Hollywood frat-pack movies. Candaan ala frat-pack membuat movietard cukup banyak tertawa saat menonton film ini, dimulai dengan kehadiran the Hollywood It boy, Franco di awal film, banyaknya bromance tension antara Britt dan Kato, bahkan tak tanggung-tanggung, Christoph Waltz yang sangat charismatic pun dipaksa tampil bodoh dalam memainkan karakter Russian gangster Chudnosfky yang dipertengahan film berganti identitas menjadi bloodnofsky *Oh My Lord!*.

Sayangnya, ketika The Green Hornet release, entah dikarenakan penampilan Rogen yang kurang masuk sebagai Britt ataupun story plot yang tidak superheroes-formulaic karena banyaknya unsur komedi, film ini mendapat review negatif dari para kritikus. Apakah Gondry tak serius mengerjakan film ini? Well, yang patut diketahui bahwa The Green Hornet bukanlah produk asal jadi. Gondry sendiri bahkan pernah menulis script untuk film ini pada tahun 1997, sayang, proyek ini lalu terbengkalai.  Seolah ingin menyelesaikan unfinished bussiness-nya, Gondry kembali dalam kurun waktu belasan tahun setelahnya guna menyelesaikan The Green Hornet.

Jadi jelas, The Green Hornet bukanlah proyek sembarangan, jika memang Gondry dianggap gagal mengeksekusi film ini, mungkin karena lazimnya anda memiliki standardisasi mengenai film superheroes itu sendiri. Tanpa disadari, anda seolahnya sudah membentuk imaji sendiri akan sosok jagoan, entah itu dalam bentuk tubuh semenawan Ryan Reynolds ataupun dengan sifat yang baiknya sama seperti Nabi Isa. Jadi, ketika Gondry justru menyajikan sisi parodi sosok superheroes, entah dengan sifat haus perhatian si pahlawan super yang ingin dimuat di media ataupun bagaimana Britt tampak begitu bodoh dan justru membutuhkan Lenore untuk menjadi otak dari segala operasi yang ia lakukan, anda akan melihat sosok Britt bukanlah the real superheroes.

Honestly, I found this movie is enough fun! Kapan lagi anda menemukan superheroes yang playboy dan agak bodoh seperti Britt? Rogen membawakan karakter Reid sebagai sosok yang menyebalkan, tetapi justru sifat menyebalkannya inilah yang membuat Jay Chou sebagai Kato bersinar. Yep, that Taiwanese Idol totally not a bad one, he acted enough good! Dengan bahasa Inggris patah-patah dan ekpresi polosnya, setiap penampilan Chou di The Green Hornet mencuri hati movietard *blush*. At last, kalau boleh memberi saran, instead of spending money to see it on 3D version, movietard merasa konversi yang dilakukannya tidaklah memukau. Jadi, tak masalah jika anda menontonnya dalam versi 2D, it also gonna be enjoy to watch.

I was born in Shanghai. You know Shanghai? [Kato]
Yeah, I love Japan [Britt]

Do You Know
The Green Hornet bukanlah imitasi dari cerita Batman. The Green Hornet telah ada sejak tahun 1936 dalam bentuk drama radio, dan juga muncul sebagai episode serial TV di tahun 1966.
Tahun 2008, Stephen Chow dialokasikan sebagai sutradara dan juga memainkan peran Kato, tetapi Ia mundur karena adanya perbedaan visi dengan rumah produksi.

My Rate
2.5 stars! Gondry goes to mainstream is a fun thing! I enjoyed The Green Hornet, but if he plans to make another superheroes movie which supposedly much better than this, please be teammate with Alan Moore as scriptwriter, that’s gonna be a cool one!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s