Short Review: Indonesia International Fantastic Film Festival 2010

Movietard bukanlah penggemar film bergenre horror, slasher, ataupun yang sejenisnya. Film horror yang terakhir ditonton adalah Shock Labyrinth (yang juga ditonton karena accidentally dapat free tiket dari rekan), dan sebelumnya, I just watched Rumah Dara (Macabre) at the end of 2009. Tetapi untuk tahun 2010, I tried to watch some of this genre, simply, because I would love to dare myself and feel all that thrilling at  Indonesia International Fantastic Film Festival ( Inafff) 2010 yang diadakan tanggal 21-28 November 2010 [To told you the truth, I’ve also made a self-note, just watched for slasher or thriller genre, and still, avoiding horror-part.] And here’s my Inafff 2010 review

Monster

The Plot
Mexico terinfeksi sisa percobaan sampel Alien dari enam tahun lalu, dan ini cerita Andrew ‘menyelamatkan’ anak bos-nya, Samantha untuk keluar dari Mexico.

The Comment
Is it gonna be the next District 9? Monster (2010) toh tampil lebih sederhana. Ya, ketika District 9 menyuguhkan relasi horisontal antara alien dengan manusia yang intens dan emosional, Monster tampil justru sebagai sarana refleksi dua muda-mudi, antara Andrew, si jurnalis foto yang pernah menjalani bad relationship, serta Samantha yang telah bertunangan. Perjalanan darat yang berbahaya ini juga awalnya kental dengan muatan sosial, membuat anda sadar betapa mahalnya harga sebuah keselamatan di negara berkembang.

Alih-alih menjadi film science fiction yang memorable untuk opening Inafff 2010 ini, slow pacing dan cerita yang terfokus Andrew dan Samantha, bukan pada si Alien membuat Monster gagal menyamai nilai moral District 9. Movietard tak sepenuhnya kecewa dengan Monster karena dengan budget hanya 15.000 US dollar, toh Monster berhasil menyajikan kisah drama percintaan dalam chaos. Apalagi, sutradara Gareth Edwards sempat menyelipkan landscape view perbatasan USA dan Mexico yang indah.

The Clinic

The Plot
Ini kisah Beth dan tiga perempuan lainnya, para calon ibu yang  ‘dipaksa’ melahirkan. Seolah tak cukup buruk, selain kehilangan bayi, mereka juga dikejar pembunuh.

The Comment
Dari judulnya, anda tahu akan berseting dimana cerita human horror ini. Beth yang tengah hamil tua diculik ketika tengah bermalam di motel dan dibawa ke klinik di pedalaman. Pace berjalan lambat diawal tetapi tensi mulai meninggi dan membuat anda merasa thrilling ketika the killer mulai memantau korbannya. Apalagi, pembunuhan ini melibatkan karakterisasi yang  menjadi soft spot bagi banyak orang, ibu hamil dan bayi. Banyak scene yang akan membuat anda menjerit, seperti aksi the killer yang berusaha membunuh para ibu yang tersisa dengan brutal.

The Clinic membuat anda memahami, bahwa semua orang berada di posisi abu-abu bahkan untuk heroine-nya sendiri. Suka atau tidak, anda harus menerima penjelasan yang diberikan diakhir walaupun penjelasan tersebut tetap memberikan banyak pertanyaan baru. Scriptwriter The Clinic coba memberikan sebuah twist diakhir cerita, tetapi yang justru sangat memorable tentunya scene pengambilan tanda bayi di perut para ibu, yang walaupun mengerikan, at the same time, anda diajarkan betapa besarnya kasih ibu kepada si bayi.

The Disappearance of Alice Creed

The Plot
Alice Creed (Gemma Arterton) diculik. Dua orang penculiknya, Danny dan Vic minta tebusan tinggi. Cerita terdengar simple kalau saja si penculiknya tidak menyimpan rahasia.

The Comment
Pernah menonton film thriller yang membuat anda menjerit keras justru di scene yang  tidak menakutkan? This is exactly what happened with me. The Disappearance of Alice Creed (2010) jelas memberikan thrilling yang berbeda dibanding film-film Inafff lainnya, it’s definitely made you have a ‘fun’ scream karena alih-alih ditakutkan oleh penculik psikopat, anda justru diberikan penculik yang well, different from any kidnapper have you ever thought. Selanjutnya, anda diajak membongkar what will happen next between Alice, Danny and Vic. Ketika motif sudah bercampur dengan emosi dan passion, yang terjadi adalah hal-hal tak terduga, yang bahkan melahirkan funny moments.

In my opinion, kekuatan The Disappearance of Alice Creed justru terletak pada twist dalam plotnya, dan bagaimana twist tersebut membuat rangkaian adegan yang hanya melibatkan tiga orang sepanjang film tetap memiliki tensi tinggi yang fun. The Disappearance of Alice Creed menghadirkan banyak ‘what the fuck’ moment yang kadang, tak hanya membuat anda menjerit, tetapi juga tertawa (remember about the bullet-plot). Selain itu, adegan yang ditampilkan sepanjang film pun cukup bersih dari darah dan well, the nude scene of Gemma Arterton is worth to watch, isn’t it? To make it perfect, film ini diakhiri dengan ending yang juga sangat fun, and it made this movie as  my 1st favorite at Inafff 2010

Surprise movie (Dream home)

The Plot
Cheng Li-sheung adalah karyawati bank yang ingin membeli apartement baru. Besarnya keinginan itu membuat Chen Li-sheung melakukan murder festival at her wish-list apartment.

The Comment
Oh May! Kamu butuh film yang literally, berdarah di mana (spoiler)  usus terburai, leher tergorok, alat kelamin terpotong, mata terinjak? Silahkan menonton film slasher buatan Hong Kong yang di-direct Ho-Cheung Pang, Dream Home (2010), yang menjadi surprise movie di Inafff 2010 ini. Beberapa rekan moviegoers menyukai Dream Home karena selain full of blood, plot film ini juga cukup baik. Ya, Dream Home berkisah bagaimana seorang ordinary working girl justru melakukan pembantaian terhadap beberapa penghuni apartemen. Li-Sheung tentunya bukan psikopat, dan melalui alur non linear, audiens diajak ber-flashback ke masa kecilnya, ketika ia menginginkan apartment yang memiliki sea-view.

Main plot-nya memang cukup baik karena alih-alih memasukkan tokoh pembunuh berdarah dingin, Li-Sheung justru tampil sangat sederhana termasuk dalam persiapan alat-alat membunuh dan toh, ia juga ikut terluka dalam festival pembunuhan yang ia rancang. Dream Home juga memasukkan beberapa kritik sosial mengenai konglomerasi properti di Hongkong. Hanya saja, my main problem with this movie is, beside all the gory-stuff, all that sexual intercourse and nudity is more than enough . Movietard mungkin terdengar begitu konservatif, tetapi jujur, rasanya sangat tidak nyaman menonton seseorang dibunuh ketika ia tengah melakukan sexual intercourse.

The Girl who Kicked the Hornet’s Nest

The Plot
Ini kisah Lisbeth Salander yang menjadi tersangka dari beberapa pembunuhan. Dibagian akhir trilogi, Listbeh tengah terbaring sakit, dan tugas Mikael-lah untuk menolongnya.

The Comment
Movietard merasa bodoh ketika memutuskan menonton The Girl who Kicked the Hornet’s Nest (2010) tanpa menonton dwilogi prekuelnya terlebih dahulu. I had The Girl With Dragon Tatto’s file at my HD, but still, I don’t have courage to watch it and voila, justru seri ketiga ini menjadi puncak penutup di Inafff 2010. Luckily, The Girl Who Kicked the Hornet’s Nest cukup asyik dinikmati walaupun harus membuat movietard sedikit banyak bertanya tentang apa yang terjadi di film sebelumnya. Sebagai drama-thriller, film ini memang menyuguhkan plot 80% untuk sisi drama dan sisanya untuk thriller. Tetapi, akting superb Noomi Rapace sebagai Lisbeth dengan gaya gothic-nya membuat film ini tak semembosankan yang movietard kira. Tentunya, seperti layaknya film thriller lainnya, twist diberikan diakhir film, ketika anda merasa bahwa semuanya telah selesai dengan adil.

5 thoughts on “Short Review: Indonesia International Fantastic Film Festival 2010

  1. “Movietard mungkin terdengar begitu konservatif, tetapi jujur, rasanya sangat tidak nyaman menonton seseorang dibunuh ketika ia tengah melakukan sexual intercourse.” ===> maaf ya kalau ngakak baca yg bagian ini😀

    Aku penasaran dengan ending The Girl who Kicked the Hornet’s Nest. Donlotannya hilang 30 menit terakhir ;p

    • hihihi, tapi beneran loh om, aku ngerasa gak nyaman aja lihatnya😀

      endingnya…endingnya…ah, buka wiki aja om, enough good kok ending dari The Girl Who Kicked the Hornet’s Nest

      • apakah…!! gw ga suka banget ending TGWKTHN, SEBEL SEBEL SEBEL..

        bb, lo blom liat sih, gimana ending dwilogi sebelumnya.. NICE..!! ga kaya final installment-nya inio_O

  2. TGWKTHN, filmnya bagus juga walau terasa lambat, bahkan sampe adegan persidangan puncak bikin geregetan, habisnya lelet banget sih, dan langsung suprise begitu bukti2 disodorkan !!

    Honestly, diantara trilogy Millenium ini, saya lebih suka TGWTDT, dengan ending yg susah ditebak😀

  3. MONSTERS, gue sih suka banget. ini lebih ke film romantis yang ditaruh beberapa ekor gurita raksasa diantara perjalanan mereka berdua😀 jarang2 nemu film dengan atmosfir melankolis kaya gini😀
    btw ijin taro link di blog gue yah. mau taro link blog gue juga silahkan loh😀
    salam kenal dari tiketbioskop.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s