Eat Pray Love

The Plot
Ini memoar Elisabeth ‘Liz’  Gilbert (Julia Roberts) ketika  ber-travelling ke tiga negara yang terkenal itu.

The Comment
Eat Pray Love (2010) dalam masa pra dan produksi menjadi salah satu long awaited movies, tetapi, setelah di-release, film yang di-direct dan ditulis oleh Ryan Murphy justru mendapat review negatif karena dianggap kurang mampu menggambarkan esensi pencarian jati diri Liz versi novel. Movietard sendiri bukanlah pembaca novelnya sehingga menjadi bertanya-tanya, is this movie another novel bad rip off?

Realitasnya, Murphy sukses menyajikan gambar yang  indah, tepatnya dengan banyak meng-capture landscape view Roma, Pataudi dan Bali, lengkap dengan menunjukkan keberagaman culture di kota-kota tersebut. Murphy bahkan membuat Roberts tampak sangat glowing dalam beberapa scene, memperkayanya dengan lagu-lagu yang easy listening, tetapi sayangnya, kecantikan shoot ini tidak ditunjang dengan story plot yang baik.

Movietard cukup kecewa dengan script Eat Pray Love yang digarap Murphy dan Jennifer Salt. Entah karena Murphy mengikuti pakem novelnya,  yang well, tanpa membaca novelnya pun, movietard memahami hal-hal yang dialami Liz adalah part of everyone’s life, tentang bagaimana seseorang yang sudah memiliki segalanya justru merasa lost. Bedanya, penemuan jati diri Liz ini dilakukan dengan lebih glamor yaitu, dengan ber-travelling ke Italy, India dan Indonesia guna menemukan label nama baru untukknya.

In my opinion, untuk ukuran Murphy, he could made this movie better than this. Eat Pray Love memang tak membutuhkan weird joke ala Murphy, tetapi sayangnya, plot yang slow pacing justru membuat audiences cukup bosan melihat perjalanan Liz yang somehow, it just too good to be true. Walaupun begitu, movietard sangat suka bagaimana Muprhy menangkap kegalauan Liz  diawal, ketika ia berdoa pertama kalinya kepada Tuhan.

Sayangnya, setelah scene tersebut, I don’t find this movie is enough impressive karena Murphy lebih asyik bermain dengan side plot yang menceritakan lingkungan dan karakter baru di sekeliling Liz dibanding dengan kisah Liz dalam memaafkan diri sendiri. In my opinion, cerita Liz ini justru kalah bersinar dengan cerita Felipe, Richard ataupun Wayan yang jauh lebih menyentuh. Bahkan narasi Liz sendiri justru lebih bagus ketika ia menceritakan tentang Wayan dibanding dengan cerita pengalamannya sendiri.

Untungnya, Roberts menyelamatkan Eat Pray Love. Dalam 2/3 film, ia bermain sangat baik dan mampu menggambarkan kekecewaannya ketika bercerai dengan Stephen dengan sangat jelas. Hanya saja, ketika seharusnya Liz sudah mulai memaafkan dirinya dan mencoba berbahagia, she still looks depressed. Justru, para karakter tambahan disekeliling Roberts yang memberikan rasa crunchy pada Eat Pray Love, dari mulai Richard, Ketut ataupun Wayan si penyembuh.

At last, Eat Pray Love is a fine movie, not really a great one but also not a bad one too. Tetapi jika anda perempuan, tampaknya anda akan jauh lebih menerima kisah Eat Pray Love ini. Entah karena anda menjadikan  karakter Liz Gilbert sebagai role model perempuan modern saat ini, or just like me, who just thought my life mission are… eat all yummy foods without cholesterol worrying-thingy, pray to God regularly and last, find your real man because dear, you just live once…so enjoy it as long as you could.

You don’t need a man, Liz. You need a champion [Felipe]

Do You Know?
Dalam Eat Pray Love (2010) ditunjukkan bahwa football team yang didukung oleh teman Liz adalah AS Roma, sementara pada novelnya, it should be Lazio, klub rival AS Roma
Kehadiran novel yang sukses (dan diharapkan filmnya juga) membuat setidaknya ada 400 produk yang menggunakan tema Eat Pray Love, dari perhiasan hingga teh

My Rate
2,5 stars. It gave us a different view about how (rich) woman’s experience to find her meaning of life, at the same time, I’m enough embarrassed with Murphy’s 1st directing.

5 thoughts on “Eat Pray Love

  1. gue sebagai pembaca novelnya sih agak yaaa kecewa dikitt soale di film tuh berasa lebih kena gitu betapa Liz ini vulnerable dan agak depresif sama hidup dia, tapi pas diterjemahkan ke film jadi berasa dia jalan2 gitu.. padahal kan ga se-easy itu, kurang seriuss sih penerjemahan tokoh Liz, mungkin biar masuk ke genre drama yg ringan kali yaa..

    tapi gue suka sih ama visualisasi bali di film ini, dan Pizza dan Spaghettinya..

    well gue overall puas, tapi Murphy bisa berbuat lebih dari yang skrg dia wujudkan ke layar lebar.

    • thanks In atas inputnya as a reader, tuh kan, pasti ada sisi depressive Liz yg gak kegambar secara visual ya,
      jujur gue lumayan suka sama opening EPL ini, terutama pas scene liz berdoa itu tapi emang grabing Murphy ke belakangnya makin nurun
      dan thanks juga atas ralatnya, hehehe iya ya bukan novel, but it’s a memoar😀

  2. This is not Ryan Murphy’s first directing, this is his second. His first feature film is “Running with Scissors” which was also a critic failure.
    😛

    Nggak suka dengan film ini. Rasanya kok begitu gampang ya di Liz mencampakkan suaminya, dan pacarnya — dua pria — dalam waktu yang berdekatan dengan alasan yang kekanak-kanakan: “Saya tidak tahu apa yang saya mau” atau “Kamu tidak tahu apa yang saya mau.”

    I mean, as a man (or boy), that is sounds so ridiculous, and of course, so bloody arrogant. I just lose my sympathy for Liz — which was so bad for this kind of movie.

    Salam.

    • Thank you atas correctionnya yang tentang Murphy,
      I got it, saya juga berpikir hal yang sama kok, even I’m a woman tetep aja Muprhy gagal menggambarkan soul searching Liz dengan lebih depth
      anyway, in a bright side, saking begitu sederhananya eksplanasi dan penyelesaian problemnya liz sampe saya berpikir life is so easy😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s