Peepli [Live]

The Plot
Si petani di desa miskin Peepli, Natha (Omkar Das Manikpuri) berniat bunuh diri untuk menyelamatkan lahannya. Ketika keinginan bunuh diri Natha termuat di media massa, ia mendapat perhatian luas dari para jurnalis dan politikus.

The Comment
What’s happened with Hindi movies nowadays? The fact is, they’ve been transformed,
dimana pakem flawless main actors and every ten minutes there should be a dancing scene dipatahkan, dan Peepli [Live] (2010) menjadi contoh nyatanya. Dalam film ini,  Omkar sebagai Natha tidak melakukan satupun tarian atraktif dan well, he’s definitely not as attractive as Arjun Rampal, John Abraham or Aamir Khan, he’s too far-far away from them. But hey, if John Abraham played a poor farmer, none will believe it rite? So, Omkar adalah pilihan yang tepat untuk film yang memang bergenre drama komedi satir ini.

Peepli [Live] realitasnya mencapture the real India, langsung menyoroti kepada kaum yang selama ini terlupakan, para petani. Dan landscape view yang ditunjukkan jelas bukanlah pemandangan yang indah. Ketika 3 Idiots ataupun Slumdog Millionaire tetap bisa menyajikan landscape indah dalam sinematografinya dengan story plot yang mengiris hati, Peepli [Live] jelas tak menyajikan ini. Dengan dokumenter style, kamera bergerak cepat dan dari awal, anda hanya disajikan view desa rural yang gersang, yang ada hanyalah para keluarga miskin yang mencoba bertahan hidup.

Jadi apa yang membuat Peepli [Live] menarik? The story itself! Jujur, movietard tidak menikmati film ini sebagai hiburan karena Peepli [Live] jelas mengajak anda melihat the real world. Well, anda memang dibuat tertawa, tetapi dengan miris ketika menyaksikan how money has important role, bagaimana dunia perpolitikan yang penuh dagelan menjelang new election dan menjadikan Natha sebagai bahasan nasional, ataupun mentertawakan banyaknya program pemerintah yang (katanya) bertujuan mengentaskan kemiskinan seperti pemberian pompa La Bahadur.

Sebagai mantan anak komunikasi, movietard juga melihat bagaimana kuatnya peran media dalam Peepli [Live]. Bagaimana media membuat Natha ‘terkenal’ melalu agenda setting-nya yang membuat Movietard percaya bagaimana media membuat anda merasakan 15 minutes of fame. Bagaimana newstainment is everywhere and rating is everything, yang membuat media bahkan tak segan memasuki wilayah privasi Natha, dan toh, suatu saat Natha akan ditinggalkan, ketika ia dianggap tak lagi memiliki nilai berita.

Selain naskahnya, kekuatan Peepli [Live] juga terdapat pada karakter Natha yang diperankan dengan brilian oleh Omkar. Natha yang di-push oleh banyak pihak untuk melakukan/tidak melakukan bunuh diri nyatanya tetap bisa menyajikan comedy taste melalui gesture Omkar dan less-talknya dia yang sangat lucu. Beberapa angle yang menyorot Natha secara dekat juga membuat anda kadang tertawa, bahkan saat Natha tak berbicara apapun.

Peepli [Live] ditutup dengan ending yang well, I don’t wanna give you a spoiler, tetapi setelah sepanjang film anda mengunggu Natha akan bunuh diri atau tidak, it’s definitely a brilliant ending yang membuktikan Anusha Rizvi selaku director telah melakukan tugasnya dengan baik. Peepli [Live] jelas bukan film yang dapat dinikmati oleh semua audiens. Tetapi sebagai masyarakat yang sama-sama tinggal di dunia ketiga, anda toh akan dapat merasakan proximity dan relevansi cerita Natha di desa Peepli ini dengan kehidupan di Indonesia, tinggal ganti program La Bahadur dengan konversi minyak tanah ke gas, dan anda akan tertawa lebih miris karenanya.

Do You Know?
Director
Anusha Rizvi menulis skrip mengenai Peepli Live (yang berjudul The Fallen) ketika ia masih menjadi jurnalis dan meminta Aamir Khan membacanya.
Peepli [Live] menjadi film keenam Aamir Khan Production, yang diikutsertakan dalam festival film internasional seperti Sundance Film Festival dan Berlin Film Festival.

6 thoughts on “Peepli [Live]

  1. Paragraf pertamanya bener banget tuh. Film india sekarang entah kenapa udah berubah banget, ga kayak jaman jaman dulu lagi pas film india menginvasi tv tiap hari *mengenang masa sd*
    Btw Peepli(Live) cuma ada di Blitz ya? Aku pengen😦

  2. Slumdog Millionaire bukan film Bollywood, nor India. Itu film produksi Inggris yang mengambil kisah berlatar India. Sama halnya dengan Gandhi, The Last Emperor, dan Memoirs of a Geisha.

    [What’s happened with Hindi movies nowadays? The fact is, they’ve been transformed, dimana pakem flawless main actors and every ten minutes there should be a dancing scene dipatahkan, dan Peepli [Live] (2010) menjadi contoh nyatanya.]

    India gak cuma Bollywood. That’s a fact.🙂

    Sejak jaman jebot dulu banyak film India yang gak nari-nyanyi. That’s a fact. Biasanya film-film semacam ini disebut film arthouse, dan lebih sering melanglang-buana di festival ketimbang bioskop komersial. Contohnya “Trilogi Apu” karya almarhum Satyajhit Ray (sutradara yang dianggap terbaik di India). Itu film favoritku. Dan gak ada nyanyi-nari. Atau “Trilogi Element”-nya Deepha Meptha.

    Kalau masalah Bollywood (saya persempit “India” menjadi “Bollywood”), kurasa transformasi Bollywood itu (seperti dalam “3 Idiots” dan “My Name is Khan”) ditujukan untuk menginvasi pasar (baca: pasar, bukan penghargaan atau festival) internasional (internasional di sini bukan cuma Indonesia). Tahu kan berapa pendapatan “My Name is Khan” dari bioskop-bioskop internasional (cek wikipedia).

    Salam kenal. Mampir ke blog film saya ya.

    • Makasih banget atas kritikannya yaaa,
      informatif sekali buat saya yang awam tentang hindi movies terutama untuk bollywood
      Selama ini saya memang masih terlalu mainstream dan hanya mengikuti film hindi yang kamu sebutkan diatas dan whoa! ternyata film hindi pun jauh lebih richness drpd yg saya bayangkan.
      Sudah saya link ya!
      Thank you atas masukannya, nice to know another moviegoers😀

      • Hehehe. Sama-sama.
        Kalau mau yang “lain” dari India, rekomendasi saya coba: “The Apu Trilogy” (ada tiga film) dari Satyajit Ray, “Element Trilogy” (ada tiga film, paling bagus menurut saya “Water”) dari Deepa Meptha, “Mother India,” “Salaam Bombay!,” atau kalau mau yang agak baruan, ya, “Vanaja” (2006).
        Rasain deh kenikmatan yang bener-bener beda dari Bollywoodisme.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s