Toy Story 3

The Plot
Andy Davis ( Dubber: John Morris) sudah berusia 17 tahun. Tentunya, ia tak lagi bermain dengan mainan kesayangannya, seperti Woody si Sherrif dan Buzz si space ranger.

The Comment
Sebetulnya agak percuma membuat review Toy Story 3 (2010) ini,  silakan berkunjung ke RottenTomatoes.com and you’ll find this movie is certified as 99%  fresh with 143 review, begitupun dengan blog-blog kolega movietard yang telah mereview dan menyatakan betapa bagusnya film ini. Perjalanan Andy dengan mainannya dituangkan tanpa cacat sedikitpun oleh orang-orang jenius Pixar, dibawah arahan director Lee Unkrich.

Toy Story 3 memang tidak mengangkat tema yang seidealis dan sekritis Wall-E (2008). Sekuel ketiga dari cerita Woody dan kawan-kawannya ini justru menyoroti hal yang sangat sederhana, ketika anda dewasa, apa yang terjadi dengan mainan-mainan anda? As we know, kehidupan sosial kita saat ini terstruktur dengan stereotype ‘playing with toys is just for kids’ sementara komunitas pecinta action figure dianggap sebagai tempat orang dewasa membuang uang mereka dengan useless.

Dari story plot, Toy Story 3 sukses mengaduk perasaan anda, it showed how our toys always gonna be part of our past life, and we’ll always remember them, no matter how old we are. Walaupun movietard merindukan Bo Peep yang manis, tetapi kehadiran Buzz Lightyear spanish version mampu membuat movietard tertawa. Above all, kesetiaan Woody terhadap Andy dan eratnya persahabatan Andy’s Toys membuat movietard terharu dan yang pasti, this movie has a great message, life is a long journey, one journey’s end is another’s beginning.

Jadi, movietard tak perlu menjelaskan kenapa anda harus menonton film ini, just buy the ticket and enjoy the show! Jika begitu, apa gunanya kolom ini? Well, movietard mencoba melihat franchise Toy Story dan Pixar dari sisi yang sedikit berbeda. Anda tahu bahwa selalu ada perdebatan menarik terkait dengan karya seni, termasuk film, yang membuat beberapa film kadang dikategorikan sebagai produk high culture yang mementingkan kualitas dan award-winning, ataupun produk pop culture yang berorientasi bukan pada kualitas, tetapi apakah karya tersebut akan disukai secara general.

Terdapat kecenderungan bahwa film-film dengan kualitas diatas rata-rata justru masuk ke kategori ‘can’t consumed by all audiences’, yang melahirkan kesulitan untuk seorang kreator berdiri dalam dua pijakan tersebut. Ketika idealisme anda dihadapkan dengan kepentingan ekonomi, what will you choose? Lagi, lagi, Pixar membuktikan, you actually can stand at two side! Dari segi kualitas, Toy Story 3 tidak mengalami penurunan dibanding dua prekuelnya, justru, ini menjadi akhir yang sempurna bagi cerita kesayangan para pekerja Pixar.

You can call me a Pixar-shipper, but believe me, Pixar really know how to make great movies from years to years. For me, the one and only Pixar’s weakness is they have no idea how to make a bad movie. Pixar mengajak anda bermimpi dalam film-film mereka, memang ada hal-hal yang out of logic but none care if toys actually can’t speaking karena inti dari film yang diproduksi Pixar adalah untuk menghibur anda semua. Tetapi, film-film Pixar secara keseluruhan realitasnya menghibur anda, a different way, karena bisa juga menjadi medium of learning.

Ketika Dreamworks sudah berpuas diri dengan animasi mereka yang berkutat pada nama besar dubber dan joke-joke konyol yang populer, Pixar-lah yang membawa film animasi menjadi lebih maju with an inspiring, meaningfull and heartwarming story-plot, outstanding animation picture CGI and a clean-jokes, Pixar memiliki kelasnya tersendiri. Pixar production is a high class art which always can consume by popular audiences, yang menunjukkan bagaimana idealisme Pixar realitasnya tetap bisa bertahan dan tetap sukses secara ekonomi dan diterima masyarakat. Another a well-done job from Pixar!

What are you going to do with these old toys? [Andy’s Mom]

Do You Know?
A113, yang dalam film ini tertera sebagai nomor plat mobil Ibu Andy, merupakan penghormatan para pekerja Pixar terhadap kelas mereka di California Institute of the Arts dan selalu muncul dalam film produksi Pixar
Lee Unkrich dan tim animasi mencukur rambut mereka sebelum mengerjakan Toy Story 3
Movietard menonton Toy Story 3 dalam format biasa, but I’ll back to see it in a RealD

5 thoughts on “Toy Story 3

  1. ya, cukup membingungkan mengenai bagaimana caranya pixar menghibur penonton, sekaligus mengedukasi tanpa ada sedikitpun rasa sok tahu dari si penciptanya
    dan film ini adalah salah satu film yang bikin gw, selaku orang awam dalam dunia film, bisa berkata “ooo, ini toh pesan moralnya”, yang berarti film ini betul betul mudah dimengerti

    kudos buat pixar!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s