Up in the Air

The Plot
Bekerja sebagai career transition counseling, memungkinkan Ryan Bingham (George Clooney) untuk terbang ke seluruh penjuru Amerika serta mencapai misi menjadi 7th frequent flyer di American Airlines.

The Comment
Jason Reitman is back! Setelah mengajak kita mentertawakan teen pregnancy lewat Juno (2007),  Reitman menyutradarai dan juga menulis skrip Up in the Air (2009) yang diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Walter Kirn. Dan plot Up in The Air akan membuat audiences, well, mentertawakan diri mereka sendiri kali ini. Terimakasih kepada tipe masyarakat gesselscaft, consumer culture serta economic recession yang membuat karakter seperti Bingham benar-benar hadir, individu yang loyal kepada pekerjaan ataupun merk yang memberikan kepuasaan walau dalam bentuk semu.

Sebelumnya, Fight Club (1999) pernah mentertawakan individu yang tergila-gila Ikea, komedi situasi dan Starbucks. Dan di Up in the Air, kecintaan Bingham terhadap perjalanan udara, kartu perjalanan, American Airlines dan Hotel Hilton membuat anda tertawa. Misi Bingham untuk terbang sejauh 10 juta mil mungkin terdengar bodoh, tetapi toh  misi hidup rekan kerjanya, Natalie Keener (Anne Kendrick) to live happily ever after with his prince charming juga tidak terdengar pintar.

Ketidakpercayaan Bingham terhadap hubungan real yang melibatkan emosi nyatanya diuji  saat ia bertemu dengan Alex (Vera Farmiga) membuat Bingham si penghindar komitmen pun mulai mempertanyakan pilihan hidupnya. Up in the Air ditutup Reitman dengan not so happy ending tetapi disinilah poin pentingnya, endingnya mungkin terasa sinis dan hampa, tapi itulah perasaan yang dirasakan individu yang hidup seperti Bingham, dimana eksistensi diri diperoleh melalui kartu frequent flyer bukan dari anak-anak yang memangilnya ayah.

Seperti Fight Club, Up in the Air menjadi sebuah kritik cerdas mengenai manusia yang hidup dalam budaya konsumsi, yang realitasnya tidak seindah dalam eksplanasi ahli pro-globalisasi. Reitman menyajikan shoot-shot yang seefisien karakter Bingham serta didukung dengan score yang manis. Apalagi, ketiga bintang utamanya bermain dengan pas. In my humble opinion, Up in the Air seolah menjadi self therapy movie Clooney bagi dirinya sendiri yang memang tidak mau berkomitmen. Jika sehabis ini, anda mendengar Clooney menikah dengan Elisabetta Canalis, say thanks to this movie!

If you think about it, your favorite memories, the most important moments in your life… were you alone? Life’s better with company [Ryan Bingham]

Do You Know?
Up in the Air menghadiahi Jason Reitman dan Sheldon Turner piala Golden Globe untuk best screenplay. Film ini juga dinominasikan dalam 6 kategori di Academy Award 2010 termasuk untuk best picture
Selain beberapa aktor, orang-orang yang memberikan testimoni dalam format dokumenter setelah dipecat sebagian besar adalah individu yang benar-benar pernah dipecat akibat krisis ekonomi di St. Louis dan Detroit

8 thoughts on “Up in the Air

  1. seperti komen gue di blognya Oom Gilasinema, gue cintaaaaa banget ama film ini!!
    semua dialognya kereen, witty, cerdas, semuanya bikin gue bilang dalam hati : “anjrit, bener banget ya!”

    filosofi backpack yg dikumandangkan Ryan itu juga keren, sesuai dengan karakter individualis apatis (banyak kita temui jaman skrg), masukkin satu2 orang2 dalam hidup kita, backpacknya semakin berat = semakin banyak masalah. kalo nggak mau ada masalah, ya kosongin aja, atau bakar aja.
    hwahahahaha sinis, tapi ya, itulah realita. in relationship itu pilihan kok.:)

    • Sama In, dialog2nya bener menohok buat kita-kita,
      universal karna budaya konsumsi kaum urban memang nggak hanya di US, tapi juga di Indo
      Gue sama temen ketawa ngakak saat Natalie dan Alex membahas tentang pria impian mereka,believe it or not, pas makan sebelum nonton kami berdua membahas hal yang bener2 sama! we’re totally have same different perspective like Alex and Natalie,
      oh damn, this movie is reflection of ourselves
      Ya, relationship itu pilihan tapi kan, as like Bingham said, everybody needs a co-pilot 😉

  2. haha iyaaa.. tetep yaa cewek2 tuh topiknya ngebahas cowok, dan nemuu gitu di film ini lessons-nya. sama adegan si natalie bertanya ke Ryan kenapa dia gak married, dan adegan di tepi dermaga juga oke.(You’re an asshole, gitu kata Natalie).

    Susah bgt jaman sekarang dapet film bagus yg bisa dibahas berhari2 setelah nontonnya. Ini salah satunya.

    • Yang saya suka, Reitman sama Turner as scripwriters plus pengarang novelnya juga sih, pinter banget masukin point of view perempuan juga di film ini melalui karakter Alex dan Natalie,
      itu poin lebihnya sehingga film ini juga menohok buat perempuan

    • salah satu bagian film yang paling penting buat saya memang scriptnya,
      dan saya jatuh cinta sama skripnya Up In The Air [applause]
      pas pulang dan buka dompet saya jadi diem sebentar liat kumpulan tiket bioskop yang saya koleksi
      beda sih sama kartu Bingham dan Alex yang ‘wah’,
      tapi ngebuktiin kalo misi hidup saya masih useless…poor me [lol]

  3. i have watched it, pertama sih rada ngga ngerti, mungkin karena gue telat 30 menit kali ya jeung nontonnya, tapi pas dipikir2, it was touching..

    yang pas lo tanya di plurk, kita, the girls, mirip mana? kok gue merasa mirip natalie ya? hahaha.. mungkin later, in 32, gue baru mikir kayak alex, hahaha..

    ps. di indonesia ada ga ya perusahaan kayak di film up in the air itu?

  4. Pingback: Everybody needs a co-pilot « see YOU in MY mind

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s