Simulacra Ayat-Ayat Cinta

w4_800

Melalui kebudayaan media yang gemar mempromosikan, mensirkulasi dan menjual komoditas (Douglas Kellner: 2003), Ayat-Ayat Cinta (2008), telah menjadi komoditas media saat ini.  Ayat-Ayat Cinta tengah menjadi fenomena terbaru dalam kebudayaan media Indonesia, mengalahkan dominasi tayangan sinetron stripping, reality show menyanyi dengan durasi panjang, novel laris karya J.K Rowling hingga tabloid yang berisi skandal para selebritis.

Suka atau tidak, Ayat-Ayat Cinta memang fenomenal. Novelnya telah terjual lebih dari 400.000 eksemplar, yang menjadikan Ayat-Ayat Cinta sebagai salah satu novel bestseller di Indonesia (Remasyarakata, 6 Januari 2007). Dalam medium yang berbeda, film Ayat-Ayat Cinta (2008) menjadi film nasional terlaris yang mampu menggapai penonton sebesar tiga juta orang hanya dalam waktu satu bulan (SUARA MERDEKA, 26 Maret 2008).

Komoditas yang Menguntungkan
Realitasnya, proses kreasi berkenaan Ayat-Ayat Cinta dengan yang dilakukan oleh penulis novel (Habiburrahman El Shirazy), sutradara (Hanung Bramantyo), hingga pencipta lagu (Melly Goeslaw dan Anto Hoed), bukanlah proses pengkreasian karya seni belaka. Faktanya, karya seni telah menjadi komoditas di dalam industri budaya, sebuah industri yang merekatkan budaya dengan kepentingan ekonomi (Chris Barker: 2004 ).

Berada dalam industri budaya membuat proses produksi karya seni tak akan pernah lepas dari sisi komersial. Proses produksi yang berorientasi untuk membuat masyarakat mengkonsumsi produk, dan nantinya akan mendatangkan pundi-pundi uang ini nyatanya sukses dilakukan oleh pihak yang memproduksi Ayat-Ayat Cinta.

Kritikus film Yan Wijaya memprediksi bahwa MD Entertainment memperoleh keuntungan bersih sebesar delapan miliar rupiah dari film Ayat-Ayat Cinta, dan begitupun penulis novel Ayat-Ayat Cinta, yang memperoleh royalti sebesar Rp 1,8 miliar, hasil dari penjualan novel yang telah cetak ulang untuk yang ke-37 (SUARA MERDEKA, 26 Maret 2008). Kesemua fakta tersebut menunjukkan bahwa Ayat-Ayat Cinta memang telah menjadi komoditas yang paling menguntungkan saat ini.

Sarana Social Learning

w5_800Menarik untuk membicarakan kesuksesan novel dan film Ayat-Ayat Cinta (2008) dalam menarik atensi masyarakat. Sebagai komoditas, Ayat-Ayat Cinta mampu menyajikan hal yang berbeda untuk dijual. Tema kisah cinta islami dalam Ayat-Ayat Cinta menjadi oase di tengah gempuran novel chicklit yang mengusung percintaaan ataupun film-film horor yang menebar ketakutan.

Sesungguhnya, novel maupun film Ayat-Ayat Cinta dapat menjadi sarana social learning bagi kita. Dengan membaca ataupun menonton Ayat-Ayat Cinta, kita diajak memaknai dan mengobservasi isi Ayat-Ayat Cinta, yang di dalamnya ada ruang untuk memaknai keikhlasan, ketakwaan hingga hubungan percintaan antara laki-laki dan perempuan dalam Islam. Ayat-Ayat Cinta juga mampu mengajak masyarakat untuk melihat poligami dalam sudut pandang berbeda.

Sayangnya, Ayat-Ayat Cinta juga menghasilkan dampak yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Seperti yang diberitakan dalam jurnal nasional.com, begitu besarnya atensi masyarakat untuk menonton film Ayat-Ayat Cinta, tiga orang remaja di Palembang luka-luka terkena pecahan kaca akibat berebut saat mengantri tiket menonton. Di Pontianak, Gusti Faisal (63 tahun) di Pontianak meninggal terkena serangan jantung saat menonton Ayat-Ayat Cinta.

Dampak lainnya juga terlihat dari perlakuan masyarakat terhadap para aktor yang bermain dalam film Ayat-Ayat Cinta. Seperti dikutip dari Kompas (12/04/2008), sejak memerankan tokoh Fahri, Fedi Nuril menjelaskan bagaimana perlakuan masyarakat terhadapnya, “Ada yang mau ngambil mantu dan pernah ada malah ibu-ibu pengajian yang mengatakan mau jadi istri ke tiga saya….”.

jean-baudrillardSimulacra Ayat-Ayat Cinta
Yang menjadi pertanyaan, apakah kesemua dampak dari produk media tersebut layak terjadi? Baudrillard menjelaskan bahwa sekarang ini, manusia hidup dalam simulacra, sebuah dunia dimana realitas tidak lagi dimaknai dari pengalaman nyata individu, tetapi dari rangkaian citra yang diberikan media (Baudrillard: 1983).

Dan sekarang, hal inilah yang menimpa masyarakat Indonesia. Tanpa sadar anak-anak, remaja, ibu-ibu hingga bapak-bapak dibuat memasuki simulacra Ayat-Ayat Cinta, masyarakat dibuat ikut merasakan semesta simulasi dalam rangkaian kata maupun adegan dalam Ayat-Ayat Cinta sebagai hal yang nyata. Kita ikut menangis saat Aisha mengizinkan Fahri menikah ataupun saat Maria meninggal. Dan setelahnya, kita dibuat tersenyum melihat Fahri dan Aisha berbahagia di akhir cerita.

Tanpa sadar, ketika masyarakat memasuki dunia simulacra Ayat-Ayat Cinta, -yang juga berlaku untuk semua produk media lainnya-, masyarakat dibuat mempercayai rangkaian citra yang diberikan media sebagai suatu hal yang nyata. Ini artinya, masyarakat akan mengimitasi dan mengidentifikasi hal-hal yang diberikan oleh media sebagai model observasinya.

‘Realitas’ Ciptaan Media
tvpillsPadahal, harus dipahami bahwa di dalam produk media, tetaplah terdapat proses pencitraan dengan dramatisasi berlebih. Dengan memasuki simulacra media dan menjadikan media sebagai model observasinya, sesungguhnya saat itu pula terjadi proses pengalihan kesadaran masyarakat dari realitas nyata menuju ’realitas’ ciptaan yang ada dalam film, tayangan televisi, musik hingga novel.

Sayangnya, melepaskan diri dari simulacra media sangatlah sulit dilakukan. Kultivasi yang begitu kuat mempengaruhi kesadaran kita, dan bahkan bisa membuat kita langsung mempercayai dan mengimitasi apa yang diberikan media. Berbagai fakta menggambarkan bagaimana kita saat ini telah memasuki dunia realitas yang diciptakan media, yang membuat kita tidak lagi bisa membedakan apa yang fiktif dan apa yang nyata.

Dua orang remaja membakar sebuah subway di New York hingga memakan korban jiwa, hal ini dilakukan setelah mereka menonton film Money Train ( 1997), yang di dalam film tersebut terdapat simulasi adegan pembakaran di subway. Dan siapa yang mampu melupakan demam memelihara ikan badut (clownfish)? Ratusan anak di seluruh dunia menjadi gemar memelihara ikan yang seharusnya hidup di air laut ini, setelah memasuki simulacra dunia bawah laut dan melihat betapa menggemaskan ikan badut dalam film Finding Nemo (2003).

Bersikap Aktif
fahriFakta di atas membuat kita memahami, betapa berbahayanya jika kita memasuki simulacra media secara berlebih. Sebagai audiens, seharusnya kita tidak hanya bersikap pasif mengkonsumsi semua budaya yang ditawarkan media.

Memaknai dan menjadikan Ayat-Ayat Cinta sebagai sarana observasi boleh dilakukan, tetapi tentunya kita tidak cukup bodoh untuk berusaha mendapatkan pasangan seperti Fahri setelah membaca ataupun menonton Ayat-Ayat Cinta.Fahri hanyalah karakter yang ada dalam rangkaian citra yang ditawarkan media, ia tidak nyata karena ia hanya hidup dalam rangkaian kata dan pita seluloid. Jika selama ini realitas media telah mampu mengalihkan kesadaran kita dari kehidupan nyata, inilah saatnya untuk keluar dari dunia simulasi.

[ Tulisan ini dibuat penulis untuk Koran Komunikasi pada edisi Mei 2008 ]

7 thoughts on “Simulacra Ayat-Ayat Cinta

  1. Beeeuuuhh… W aja belum nyampe nih nulis kayak begini…
    Hahahahahaha
    Untuk konsumsi Koran sih ya, jadi harus rada ilmiah

    • betul Pan, ibaratnya biar terlihat intelek dan terpercaya emang harus menyertakan banyak referensi gitu..ya kayak bikin little thesis deh rumusnya [lol]

    • iya ini bikinnya memang paradigma kritis gitu…dan memang bukan tentang content filmnya sih, tapi lebih nyorotin efeknya ke audiences di Indonesia, yang sorry to say, tingkat media literacy mereka masih perlu ditingkatkan

  2. iya nggie berat sekali.
    blog lo lama2 sepertinya bukan buat ulasan film belaka, tapi lebih buat makalah di jurnal2! hahha. (bahkan report gw pun gak sedalem ini kyknya.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s