The Plot
Dom Cobb (Leonardo Di Caprio) adalah seorang ‘pencuri’ yang bertugas untuk mengetahui ide dalam alam subconscious orang lain, tetapi untuk kali ini, Cobb dan tim justru dipekerjakan untuk menanamkan ide (insepsi) melalui alam mimpi.
The Comment
Inception (2010) adalah proyek ambisius dari si freaking genius Christopher Nolan yang selain sebagai director, juga merangkap sebagai screenwriter. Dan proyek yang melibatkan actor a-list dengan premis cerita yang sangat science fiction ini diharapkan menjadi pembuktian Nolan kepada dirinya sendiri bahwa ia adalah salah satu sutradara jenius paska kesuksesan The Dark Knight (2008), and did he?
Pertama, maafkan movietard jika diawal sedikit memberikan entry point untuk memahami Inception. Film realitasnya adalah adalah produk media yang bersifat open media text [Fiske, Mass Communication Theory 4th ed]. Ini artinya, text dalam film bersifat terbuka sehingga membebaskan individu untuk memahami isi film berdasarkan point of view-nya. So, jika anda memiliki pemahaman berbeda terkait dengan isi Inception, hal ini sangatlah lumrah. Anda bisa menaruh diri anda dalam standpoint sebagai penyuka konspirasi, akademisi, kritikus visual, movie maker, ataupun just like me, as an ordinary audiences.
Yang utama, Nolan membawa anda memasuki keajaiban alam mimpi melalui karakter Cobb si buronan yang memiliki kemampuan khusus untuk mengetahui ide dengan masuk ke alam bawah sadar manusia. Cobb tak sendiri, ia dibantu timnya, Arthur (Joseph Gordon Levitt), Ariadne (Ellen Page), Eames (Tom Hardy), Yusuf (Dileep rao) dan Saito (Ken Watanabe). Misi mereka terdengar simple tetapi juga mustahil, they must do an inception to a young executive guy by 3-layer-stage of dreams. Dan film ini bukan hanya menjadi petualang Cobb and Co memasuki alam subconscious Fisher, tetapi juga mengupas kehidupan pribadi Cobb lebih dalam dengan sang Istri, Mal (Marion Cotillard).
Bermain di alam mimpi seolah memuluskan impian Nolan akan bagaimana seharusnya film sci-fi berbalut aksi dan love story dieksekusi dengan sempurna. Ya, Inception memenuhi semua itu, it’s so visually entertaining -sekuens yang melukiskan guncangan dalam 3 babak mimpi sangatlah amazing- , great ensemble cast -Cottilard sangat menonjol disini, auranya somehow, lebih menyeramkan dari pada sosok hantu dalam film horror, Di Caprio semakin matang dan Gordon-Levitt tampak sangat stylist-, great pacing, great scoring and all you can feel is thrilling!
Walaupun bergenre sci-fi, Nolan tak ragu-ragu memberikan eksplanasi mengenai proses extraction dan inception itu sendiri melalui dialog antara Ariadne dan Cobb yang membuat anda memahami proses tersebut dengan jelas. But wait, apakah film ini terlihat sesederhana eksplanasi Cobb tersebut? Apa yang dapat anda simpulkan dari cinematic orgasm selama 2,5 jam?
[Tulisan selanjutnya adalah SPOILER]
Faktanya, Inception ditutup dengan ending yang bagi movietard menjadi another wtf moment. The fact is, Inception’s ending will lead you to some multiple answer but as I told you before, movie text is part of open media text so anyone can has own perception about its ending. Penyuka konspirasi mengatakan, Cobb masih berada di Limbo mengingat the top is still spinning, is he? or another theory said all of this plot story is just a dream. But the answer for me is, he’s now at real world
And here’s my argument, I always think Nolan’s movie always has a great meaning. The Dark Knight adalah contoh terbaik bagaimana Nolan berusaha menyampaikan sisi manusiawi pun masih ada dalam diri human, bahkan ketika keadaan terdesak. Pesan-pesan tersebut seolah menunjukkan bahwa bagi Nolan, a movie isn’t just a movie, tetapi juga bisa menjadi medium of learning. Jadi rasanya, ceramah Nolan mengenai reality dan dream-phase ini terlalu istimewa jika hanya terjadi dalam imajinasi Cobb.
Lepas dari banyaknya subliminal message dalam Inception, for me, the message I got, and it’s not a subliminal one was, when it comes to love, you can’t control it, no matter how hard you try to control it. Terdengar bodoh memang, tetapi bagi movietard, salah satu alasan kenapa Mal selalu datang dalam dunia mimpi Cobb adalah, Mal adalah bagian dari Id pada diri Cobb, sebuah representasi akan cinta yang harus berakhir dengan sangat menyedihkan yang tak dapat dikontrol oleh Cobb sendiri. Kedua, Inception melalui tokoh Cobb mengajarkan anda untuk live your life. No matter how sucks reality is and all you wanna do is escaping to your beautiful dream world (and it also means your comfort zone), oh dear, please back to reality and deal with it.
Walaupun Inception memiliki kesamaan dengan beberapa film lain, seperti 2001: Space Odyssey yang membuat koreografi Gordon Levitt melayang di gravitasi nol tampak tidak begitu istimewa. Yang patut diacungi jempol adalah usaha Nolan mengangkat tipisnya batas antara fantasi dan realita melalui sebuah aksi yang menegangkan. A must to see, bahkan sekali menonton saja tidak cukup.
Dreams feel real while we’re in them. It’s only when we wake up that we realize something was actually strange [Dom Cobb]
Do You Know?
Evan Rachel Wood adalah pilihan pertama untuk peran Ariadne. Setelah ia menolak, Nolan mengkasting Emily Blunt, Rachel McAdams dan Emma Roberts sebelum memilih Ellen Page
Salah satu clue untuk film ini diberikan Dileep Rao, ‘You know what, I’ll just say this: Use your ears not your eyes’


eh eh apaan tuh maksudnya Use ur ears not ur eyes.. huhuhu gue musti nntn lagi deh kayaknya.. lagi-dan-lagi (ini sih emang gue demen)..
tapi gue setuju ama lo, setelah 2x nonton, sebagai penonton awam dan udik, gue percaya bahwa itu udah real world-nya Cobb pas ending, meskipun totemnya masih muter. Simply because he’s just already deal with his dreams dan Mal, trus gue perhatiin ekspresi muka2 temen2nya dan muka si Fischer Jr pas mereka di bandara turun dr pesawat. Ekspresi mukanya ituu lhoooo.. gue yakin aja sih kalo itu udah di dunia nyata.
Dan pesan yg bisa kita hayati sbnrnya adalah : ya somehow kita terjebak dalam mimpi kita sendiri, terlalu dalam, sehingga susah lagi balik ke realita. Nah Nolan gave us those warnings, gini lhoo kalo lo terlalu jauh bermimpi. In a genious way, of course!
reviewnya mantab. kesimpulannya yg “No matter how sucks reality is and all you wanna do is escaping to your beautiful dream world (and it also means your comfort zone), oh dear, please back to reality and deal with it.” keren bgt!!
Mo nebak nih, maksudnya Use your ears not your eyes’ itu untuk suara totem yg muter itu berhenti di akhir pas menuju credit title kah?? hehee. Nolan gila!
#Iin
iyaaaa itu cluenya yg dikasi Rao kayaknya juga uda banyak yang tau. tebakan temen gue [Farhanah] bener sih, cuma ya balik lagi ke endingnya, it depends on your own aja, aku juga awam makanya cuma bisa mikir sampe tingkat segitu aja,hahaha
#Kreshna
Thank you,sebetulnya meaning itu aku dapet karena mungkin related ke aku ya, to told you the truth, i’m struggling with this reality-dealing-thingy
#Farhanah
You got it bb, tapi ya itu…multiinterpretasi banget sih memang endingnya
Nolan memang jenius tapi menurut gua sih filmnya ga terlalu istimewa amat hanya memang termasuk film bagus di tahun 2010
gw coba kumpulin reviewan film ini dari beberapa blogger di blog gw.
termasuk tulisan moviegasm di atas.